Kangen
Untaian tali waktu yang kurasakan terulur lurus kujalani dengan senyum yang sedikit demi sedikit mulai memudar pada kehidupanku. Kehidpuan yang kurasakan sedikit demi sedikit berubah. Aku merasa sudut pandangku benar-benar berubah setelah mengenal apa itu cinta. Bagaimana rasanya mencintai dan bagaimana rasanya ingin dicintai. Semua perasaan hampa dan rindu yang dulu tak pernah sekali pun aku bayangkan akan hadir dari sosoknya. Saat ini hatiku benar-benar merasakan kehampaan karena rasa rindu akan hadirnya seseorang yang pernah beberapa waktu melintas untuk sekadar meninggalkan bekas besar. Bekas yang bagaikan sebuah pisau yang tertancap dalam
“Melintas tanpa ada kehadiran,” kata yang sederhana dan singkat, tetapi membekas di pikiran. Melintas setiap kala dalam mimpi dan keseharianku, tetapi tidak ada yang bisa kuperbuat saat ini. Menyerah pada takdir yang mengikat bagaikan untaian tali mungkin satu-satunya cara. Untaian tali yang menghubungkan, tetapi hanya dalam pikiran tidak untuk raga yang bagaikan magnet yang berkutub sama karena memang kutub kita sama, sama-sama satu hati. Semua kegelisahan hati ini hanya menjadi racun yang membuat gelisah di setiap malamku.
Diriku bagaikan api yang berada di tengah lautan. Sudah kucoba yang terbaik untuk terus bertahan, tetapi kehadiranku tak bisa mengapai apa pun. Kehadiranku tak diperlukan di lautan yang luas ini. Terkadang pun aku merasa malu pada lautan ini karena entah mengapa aku berada di lautan yang tak memerlukan panasnya diriku ini. Ingin rasa aku lari dari lautan ini menuju daratan yang mungkin membutuhkan diriku. Setidaknya di sana aku dapat menjadi penghangat dirimu.
0 comments