Pendekar Hitam Nusantara - Prolog
Nusantara, sebuah dunia bagi para pendekar yang kuat dan bermartabat semakin dijunjung tinggi, gugusan dari lima benua yang dipertemukan satu samudra yang luas, dan tempat bagi para pendekar mengejar puncak dari kekuatan kanuragan, sabuk kanuragan hitam.
Ada kekuatan terkuat di tiap-tiap benua
dan umumnya kekuatan itu didominasi
oleh kerajaan. Di Benua Selatan ada
empat kekuatan terkuat yang diantaranya Kerajaan Majapahit dan
Kerajaan Medang yang tak lama lagi akan berperang.
Di sebuah perkemahan yang berada tidak
jauh dari Sungai Elo dan menjadi titik komando Pasukan Kerajaan Majapahit yang
tidak lama lagi akan menyerang Bhumi Mataram atau wilayah pusat Kerajaan
Medang, Amungkhubumi
Gajah Mada dipanggil Maharaja Majapahit untuk mendapat titah.
Esok
hari adalah batas untuk persediaan makanan Pasukan Majapahit dapat bertahan
untuk 2 minggu kedepan menjalani perang, sehingga
mau tak mau esok hari perang harus dimulai bagaimanapun keadaannya.
“Kapan
Kerajaan Sriwijaya akan sampai dibarisan pasukan kita? Kita tidak bisa terus-terusan
menahan diri. Kita sudah berada di Kawah Tidar, tak perlu waktu lama lagi
hingga kita mencapai istana kerajaan mereka!”
Sang Maharaja Kerajaan Majapahit murka karena
keterlambatan Pasukan
Kerajaan Sriwijaya yang seharusnya sudah beberapa hari yang lalu sejak mereka
datang untuk membantu mereka mengalahkan Kerajaan Medang.
Kedua kerajaan besar tersebut
menyatukan kekuatan karena sebuah ramalan bintang mengatakan tidak lama lagi
hingga penguasa Nusantara
terlahir di Kerajaan Medang.
Ramalan itu terbukti dengan adanya
kabar bahwa Maharaja
Medang tak lama lagi akan mempunyai penerus, sehingga Maharaja Majapahit saat ini, Sri
Rajasanagara mengirim utusan untuk meminta bantuan pada Kerajaan Sriwijaya walaupun
sebenaranya kedua kekuatan itu saling bertentangan.
Namun, melihat situasi yang terasa
mengancam bagi Sriwijaya juga, akhirnya kedua kerajaan itu memutuskan untuk membuat aliansi
sementara untuk sekadar menumbangkan Kerajaan Medang yang memang sudah menjadi
ancaman sejak kerajaan yang berada di tepat tengah-tengah Benua Selatan itu
berdiri sekitar 100 tahun yang lalu.
“Seharusnya kita mencari pendekar
lebih banyak, Ndoro,” Amangkhubumi Majapahit, Gajah Mada memberi saran pada
Maharaja.
Pendekar atau orang yang memiliki
kekuatan kanuragan di jantungnya, sangat menguntungkan di setiap perang karena dengan adanya
mereka kekuatan menjadi meningkat drastic dan terlebih lagi para pendekar
tidak memerlukan makanan dan tidur untuk bertahan hidup. Cukup dengan
bermeditasi mereka dapat memulihkan energi kembali.
Namun, kelebihan berbanding lurus
dengan kekurangan. Para pendekar tidak lebih banyak dari orang biasa dan mereka
yang dapat ikut berperang kebanyakan sudah terlalu kuat, sehingga memilih untuk
berpetualang sendiri tanpa mau terikat oleh suatu kerajaan.
Saat ini Kerajaan Majapahit membawa
100.000 prajurit biasa, 4 pendekar tingkat violet, 7 pendekar
tingkat merah, 10 pendekar tingkat biru, 50 pendekar tingkat hijau, dan ratusan
pendekar lainnya di tingkat oranye kebawah.
Bukan kekuatan penuh dari Kerajaan
Majaphit, tetapi cukup untuk mengimbangi Kerajaan Medang yang memiliki 4
pendekar tingkat violet dan mungkin masih ada pendekar kuat lainnya yang
bersembunyi atau disembunyikan.
Namun, kekuatan mereka akan unggul karena
bantuan pasukan Sriwijaya yang tentunya tidak mungkin lebih lemah dari pasukan
mereka saat ini karena memang Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kekuatan
terkuat dari Benua Timur.
Hal itu juga yang membuat Pasukan
Majapahit rela menunggu
hingga pasukan Sriwijaya itu datang, sehingga membuat kemenagan mereka terjamin
dan mereka tidak kehilangan banyak pasukan untuk menembus tembok pertama yang
mengitari Bhumi Mataram itu.
“Itu tidak mungkin, Anda tahu, kan, watak para
pendekar itu?”
“Saya tahu, Ndoro. Artinya tidak ada
cara lain, selain
menyerang mereka keesokan hari karena kita tidak tahu akan berapa lama kita
dapat menembus tembok mereka dan akan lebih berbahaya lagi jika mereka sempat
untuk menyiapkan rencana membakar bahan pangan di saat kritis.”
“Sial, coba saja pasokan makanan
kita tidak tercegat pasukan mereka,” maharaja memukul meja yang ada di depannya.
“Itu tidak bisa dihindari. Sayapun
kaget mereka memilih mencegat pasokan kita ketimbang menyerang secara langsung.
Padahal kekuatan mereka tidak lebih lemah dari pasukan kita saat ini.”
“Hah, mungkin mereka ingin
memenagkan perang ini tanpa korban.”
“Lalu, apakah kita akan mencoba
mengirim pasokan lagi? Saya akan mengutus pendekar tingkat merah untuk
menjaganya?”
Sang maharaja terlihat berpikir sejenak. Beliau
melihat berkas-berkas dan peta yang menunjukan posisi pasukan mereka yang
sedang bersembunyi dan yang membuka perkemahan besar-besaran.
Maharaja Majapahit itu kembali melihat
peta daerah Bhumi Mataram dan melihat bagaimana pertahanan mereka. Kerajaan
Medang itu memiliki 3 lapis tembok pertahanan, yaitu tembok terluar yang dibuat
di pinggiran sungai yang memang mengitari Bhumi Mataram di sisi kanan dan kiri,
tembok dalam yang mengitari bukit tidar yang memang menjadi tempat istana
kerajaan berada, dan yang terakhir tembok istana yang mengitari
istana kerajaan di Puncak Bukit Tidar.
“Coba Pakdhe lihat. Hanya perlu menembus tembok bagian selatan ini dan kita akan langsung dapat menyerang
istana mereka, tetapi
mengapa kita tidak segera menyerang?” sang maharaja terlihat berpikir sejenak
dan kemudian melanjutkan berbicara, “Sudah saya putuskan, persiapkan pasukan,
kita akan menyerang besok apapun yang terjadi.”
“Tapi, Ndoro...” perkataan
Amungkhubumi Gajah Mada dihentikan oleh tangan Maharaja Sri Rajasanagara yang
seperti berkata berhenti.
“Keputusan saya sudah bulat. Pakdhe tahu
sendiri, kan, kekuatan kita cukup untuk melawan mereka?”
Amungkhubumi Gajah Mada tak berani
mengelak dan dia hanya menunduk seraya berkata, “Baik, Ndoro, saya akan memperintahkan
untuk menyiapkan pasukan.”
Amungkhubumi Gajah Mada undur diri
dan segera menuju bawahannya untuk menyiapkan perang di keesokan hari. Dia
sadar bahwa ada yang tidak beres dengan gerak pasukan Medang yang mencurigakan.
Entah mereka tidak tahu tentang
aliansi itu atau mereka memang sudah merencanakan sesuatu. Namun, yang pasti jika
mereka hanya terus menunggu, kekalahan hanyalah yang mereka dapatkan karena
pasokan mereka juga pastinya terbatas.
***
Pasukan
Kerajaan Majapahit mulai diatur untuk menjatuhkan tembok bagian selatan. Mereka
menyerang bagian itu karena bagian itu yang paling dekat dengan istana kerajaan
dan salah satu bagian yang tidak dibatasi oleh sungai yang ada di kanan dan
kiri Bhumi Mataram itu.
“Para
pendekar keluarkan sabuk kanuragan kalian dan para pasukan biasa siapkan
senjata kalian!”
Sang
Amungkhubumi Gajah Mada mulai menyiapkan para pendekar untuk melakukan serangan
pembuka.
“Para
pendekar yang memiliki senjata kanuragan hewan buas, segera berubah!”
Perang
dimulai dengan serangan para pendekar yang memiliki senjata hewan buas
kanuragan yang berjenis serangan kuat seperti babirusa dan Anoa. Mereka akan menabrakkan diri pada
tembok pertahanan dengan tujuan memberikan lubang.
Namun, Tembok dari
es dan tanah yang tiba-tiba muncul entah dari mana mencegah serangan para
pendekar yang ingin menabrakkan diri ke tembok itu.
Hampir
secara keseluruhan serangan gabungan para pendekar hewan buas itu gagal, tetapi
untung saja seseorang
pendekar tahap merah yang berdiri tak jauh dari sebuah tembok es berhasil
menghancurkannya tepat sebelum seorang pendekar tahap merah lainnya menabrakan
diri.
Kini
sebuah lubang telah dibuat di tembok pertahanan dan membuat para Pasukan Pertahanan
Kerajaan Medang memfokuskan untuk menjaga area yang telah hancur itu.
Area
yang rentan untuk diterobos itu membuat seseorang yang bersabuk kanuragan
berwarna violet memfokuskan pertahanannya di area itu, sehingga kesempatan
itu digunakan oleh Sang Amungkhubumi Gajah Mada untuk menyerang sisi
terjauhnya.
Alhasil
kini lubang yang sangat besar dibuat di bagian kiri tembok pertahanan Kerajaan
Medang. Seorang tingkat violet yang tadinya menjaga sisi kanan yang telah
hancur, kini terbang dengan kecepatan maksimalnya untuk menuju sisi kiri.
Namun,
seorang pendekar tahap violet lain yang berasal dari Pasukan Majapahit melaukan
serangan panah yang tak memiliki suara, tetapi sangat kuat dari kejauhan dan membuat
pasukan penjaga itu terpental jauh hingga tak terlihat lagi.
Amungkhubumi
Gajah Mada mulai menyuruh para pendekar lain untuk menyerang pasukan penjaga
yang tersisa dan memperintahkan 50.000 pasukan biasanya untuk masuk ke dalam
tembok.
Secara
cepat pasukan biasa itu mulai membuat posisi bertahanan melengkung dengan
bagian tertutup menghadap istana kerajaan.
Bagian depan pasukan adalah tiga
lapis pengguna tameng dan tombak, di belakangnya pasukan panah yang
juga membawa pedang sebagai serangan jarak dekatnya, serta yang
paling belakang adalah pasukan
berkuda yang terdiri dari dua jenis, ada yang
membawa tombak dan ada yang membawa pedang panjang.
Dari
tempat Pasukan Majapahit kini berdiri dapat terlihat Istana Kerajaan Medang, sehingga tak butuh waktu
lama lagi hingga pasukan asli Medang akan membentuk barusan menghadang.
Amungkhubumi
Gajah Mada dan Maharaja Majapahit mulai mengeluarkan sabuk kanuragan berwarna
violet mereka dan bersiap untuk perang yang sesungguhnya.
Pasukan
Medang yang berjumlah 30.000 mulai membentuk barisan segitiga dengan bagian
belakang terbuka. Ujung dari Pasukan Medang itu adalah seorang pendekar yang
bersabuk violet dan menggunakan senjata fisik kanuragan trisula di tangannya.
Lapisan Pasukan Medang itu tidak jauh
berbeda dengan Pasukan Majapahit. Hanya saja mereka tidak menggunakan pasukan
berkuda, tetapi memilih
menggunakan badak bercula satu sebagai tunggangan mereka.
Pasukan
Medang membentuk formasi menyerang, tetapi anehnya mereka tidak segera
melakukan serangan dan seperti menunggu
sesuatu.
Amungkhubumi
Gajah Mada sadar ada yang tidak beres dan ia memerintahkan seseorang sarjana
untuk mengaktifkan pelindung bersekala besar yang melapisi pasukan itu dari
serangan.
Tebakan
Amungkhubumi Gajah Mada benar, tidak lama kemudian ada serangan petir, hujan
pedang es, dan hujan anak panah yang berjatuhan dari arah bukit.
Pelindung
itu dapat bertahan, tetapi di saat yang sama Pasukan Medang maju untuk
melakukan serangan.
Amungkhubumi
Gajah Mada terbang ke langit untuk
mengahancurkan ujung dari pasukan segitiga itu karena bila sampai serangan dari
seseorang tahap violet itu mengenai pelindung, maka pelindung itu akan hancur
dan membaut semua pasukannya terkocar-kacir.
Amungkhubumi
Gajah Mada terbang keluar pelindung bersama seseorang pendekar tingkat violet
dan 3 pendekar tingkat merah lainnya.
Setelah
sampai di angkasa, Amungkhubumi Gajah Mada dan ketiga pendekar tahap merah
melindungi pendekar tingat violet pengguna senjata kanuragan panah yang
bersamanya untuk menyerang ujung dari pasukan segitiga.
Namun,
belum sempat pendekar pengguna senjata kanuragan panah itu mengumpulkan seluruh
kekuatan
kanuragannya pada satu serangan anak panah, secara tiba-tiba mereka diserang
oleh sebuah anak panah dari arah tengah pasukan segitiga itu.
Semua
pendekar tingkat merah terpental jauh, sedangkan Amungkhubumi Gajah Mada dan
pendekar violet yang ingin melakukan serangan tadi mengalami luka dalam yang
tidak terlalu serius dan hanya sedikit muntah darah.
Setelah
mereka mendapat serangan barusan, secara cepat Pasukan Medang berhasil
menghancurkan pelindung dan membuat Pasukan Majapahit terkana serangan langsung.
Untungnya
serangan udara telah berhenti karena memang bila terus berlanjut maka Pasukan Medang
juga akan terkana serangan. Jika tidak, mungkin mereka sudah habis saat ini.
“Serangan
capit!”
Amungkhubumi
Gajah Mada memperintahkan pasukan untuk melakukan serangan mengapit kedua
sisi musuh karena musuh menggunakan serangan fokus satu arah.
Dengan
cepat pasukan sayap kanan dan kiri Pasukan Majapahit lari ke arah Pasukan Medang dan membuat
Pasukan Medang terhapit dari tiga sisi.
Kedua pasukan
mulai berhadapan satu lawan satu dan nyawa mulai terambil dengan mudahnya. Di
saat para pasukan sedang bertemput, Amungkhubumi Gajah Mada yang masih berada
di udara bersama pendekar tahap violet lainnya didatangi oleh 6 orang yang 4
diantaranya memiliki sabuk kanuragan violet.
Maharaja
yang melihat sepertinya Amungkhubumi Gajah Mada sedang kesusahan karena
didatangi banyak orang kuat itu, segera datang dengan 1 orang tahap violet dan
4 orang tahap merah.
Amungkhubumi
Gajah Mada dan Maharaja awalnya memang sudah kaget melihat ada 5 pendekar tahap
violet yang dikerahkan oleh Kerajaan Medang untuk berperang, tetapi kekagetan
mereka bertambah tak kala melihat Maharaja Sriwijaya adalah salah satu pendekar
tahap violet yang datang bersama Maharaja Medang itu.
“Dasar
pendusta!” cemooh
Maharaja Majapahit.
“Hahaha, tenanglah hanya aku dan 3 penjagaku ini yang datang ke sini,”
Maharaja Sriwijaya tertawa sembari menunjuk dua orang tahap merah dan satu
orang tahap violet yang berada di belakangnya.
“Jadi kalian sejak awal sudah bersekongkol?”
“Yah, kami sudah membuat kesepakatan lebih cepat dari
yang kamu lakukan,” Maharaja Medang kali ini menanggapi.
Amungkhubumi
Gajah Mada dan Maharaja Majapahit tahu saat ini mereka dalam keadaan
yang buruk dan bila perang ini berlanjut hanya kekalahan yang akan mereka
dapatkan.
Amungkhubumi
Gajah Mada segera mengirim telepati pada seseorang bawahannya yang berada di bawah
untuk menyiapkan sisa pasukan mereka yang masih berada di luar untuk membuat
formasi bertahan agar mereka dapat mundur.
“Perjanjian apa yang telah kalian lakukan?”
“Tentu saja itu rahasia, hahaha.”
“Cih, sialan!”
Amungkhubumi
Gajah Mada segera mengeluarkan senjata hewan buas kanuragan Harimau Sumatera miliknya
dan membuat sebuah pelindung air dan dua pendekar tahap violet lainnya
mengerluarkan serangan petir dan serangan pedang api.
Melihat peperangan antara kekuatan besar akan dimulai,
seluruh pasukan dari kedua sisi mundur ke belakang karena bila mereka tetap
berada di bawahnya, hanya kematian yang menunggu mereka.
Pasukan Majapahit mundur ke belakang dan mendapat
perlindungan dari pasukan baris belakang, sedangkan Pasukan Medang tidak
mengejar karena mereka tahu akan ada pasukan lain yang menghadang di luar
tembok.
Maharaja Majapahit mulai mengeluarkan senjata fisik hewan
buas kanuragan Elang Florsenya dan diikuti oleh semua orang yang berada di
angkasa itu.
Maharaja Sriwijaya mengeluarkan senjata hewan buas
kanuragan Harimau Sumatera, sedangkan Maharaja Medang mengeluarkan Macan Tutul
Jawa.
Maharaja Sriwijaya dengan Amungkhubumi Gajah Mada memiliki
hewan buas kanuragan yang sama, sehingga hanya perbedaan tahap saja yang
menentukan hasil perang itu.
Hal itu membuat Maharaja Medang memustuskan melawan Amungkhubumi Gajah Mada, sedangkan Maharaja Majapahit melawan Maharaja Sriwijaya. Pendekar yang
lain tidak ikut melawan karena satu lawan satu adalah peraturan yang
diperbolehkan jika pendekar tahap violet sedang berseturu.
Peraturan itu dibuat oleh Padepokan Mahawira demi menjaga
kedamaian karena bila semua pendekar tahap violet berperang secara
bersama-sama, maka dampak yang ditimbulkan akan membuat tidak hanya
lingkungakan hancur bahkan hinggga ratusan ataupun ribuan orang mati karena
dampak serangan yang dahsayat.
“[Cahaya Penghakiman]!”
Maharaja Medang mulai mengeluarkan cahaya yang sangat
terang. Cahaya itu melemahkan kekautan serangan lawan yang ia inginkan dan
bahkan dapat membuat lawan buta seketika jika lawannya berada 3 tingat di bawahnya.
Setelah lawannya terhalang oleh cahaya yang terang itu,
ia terbang dengan kecpatan tinggi dan membuat posisinya kini berada di belakang
musuh.
Namun, pertahanan Amungkhubumi Gajah Mada tidak
semudah itu untuk ditembus, ia dengan reflek tajam segera mencakar musuh yang
berada di belakangnya.
Serangan cakaran kedua orang itu seimbang dan keduanya
tidak mengalami luka apapun.
“[Cakar Atiwega]!” Maharaja Medang kembali mengucapkan
jurus.
“[Cakar Jarot]!” Amungkhubumi Gajah Mada tak mau
kalah dan kali ini ia menggunakan jurus andalannya yang mengandalkan serangan
cakaran yang kuat.
Jurus yang digunakan Maharaja Medang membuat serangannya
semakin cepat dan setiap menggenai musuh serangannya semakin cepat lagi dan
lagi.
Amungkhubumi
Gajah Mada mulai kewalahan karena kecepatan serangan macan tutul itu membuatnya
kesulitan melakukan serangan kuat yang ia andalkan.
Luka-luka yang tak dalam tapi banyak mulai terlihat di
dalam baju yang mulai compang-camping milik Amungkhubumi Gajah Mada. Kecepatan
Maharaja Medang tak bisa ia kalahkan karena tahapan mereka tidak sebanding,
Maharaja Medang satu tahap lebih kuat darinya.
Amungkhubumi
Gajah Mada mulai memutar otak kembali, kali ini ia mundur cukup jauh dan mengeluarkan
senjata fisik kanuragan keris miliknya.
“[Cakar Atiwega]!”
“[Bajra Brabat]!”
Maharaja Medang kembali melakukan serangan
bertubi-tubinya, tetapi kali ini tubuh Amungkhubumi Gajah Mada di lapisi
petir dan sedikit demi sedikit ia mulai mengimbangi kecepatan sang maharaja
itu.
Cakar dan Keris kedua pendekar itu beberapa kali bertemu
dan membuat serangan mereka semakin cepat, tetapi tak ada akhir yang pasti.
“[Ilusi Cata]!” Maharaja Medang mengeluarkan jurus yang
lain.
Secara tiba-tiba Amungkhubumi Gajah Mada pandangannya terganggu dan
perasaan takut mengahantuinya. Maharaja Medang yang melihat serangannya
berhasil segera kembali maju untuk menyerang, tetapi belum sempat cakarannya
mengenai tubuh Amungkhubumi
Gajah Mada, seseorang pendekar tingat violet menahan serangan itu.
Pendekar itu adalah Maharaja Majapahit yang tubuhnya
sudah penuh luka dan ia menarik tubuh Amungkhubumi Gajah Mada kemudian
membawanya mundur.
Amungkhubumi
Gajah Mada dan Maharaha Majapahit mundur ke bawahannya yang sejak tadi menonton
pertandingan mereka di atas langit.
Para
pendekar tahap violet dan merah yang sadar maksud dari mundurnya mereka, segera
membuat posisi bertahan dan melindungi mereka agar mereka dapat menyembuhkan
luka dengan kekuatan kanuragan mereka terlebih dahulu.
Maharaja
Medang tak mengejar mereka dan memilih menuju Maharaja Sriwijaya yang ternyata
terluka sama banyaknya dengan Mahraja Majaphit.
Kedua kubu
sadar bila ini berlanjut hanya akan terjadi perang habis-habisan karena
kekuatan mereka saat ini setara dan hal ini tidak menguntungkan untuk mereka.
“Hari ini
adalah hari yang membahagiakan untukku karena penerusku telah terlahir tadi
malam. Jadi untuk kali ini saja akan kubiarkan kalian mundur!” ucap Maharaja Medang
dengan senyum terlihat dari mukanya.
“Akan
kuhapus senyumu itu tak lama lagi!”
0 comments