Pendekar Hitam Nusantara - Ujian Murid Awal (2) - Chapter 19
Ujian berlanjut sesuai urutan yang ada dan kurang sekitar 10 orang lagi hingga Lina akan maju. Lina tampak tenang dan Yuri yakin bahwa dia sudah berada di tingkat kuning.
Sahabat Indira itu sedari tadi melihati Yuri yang di cemooh murid lain dan hampir saja beranjak dari barisannya untuk membantu Yuri.
Namun, secara tiba-tiba ia mendapat telepati dari Tetua Jayendra untuk membiarkan mereka. Lina yang tak mungkin membantah guru dari orang yang ingin ia bantu itu memilih tetap diam.
Perasaan penasaran masih menghantui wanita berambut bob pendek itu. Wanita itu masih penasaran mengapa sahabatnya dapat jatuh hati pada pria yang tak tampak istimewanya sedikitpun itu.
Waktu kembali berlalu berlalu dan kali ini giliran Lina untuk maju. Perasaan gugup tak tampak sedikitpun pada raut wajahnya dan dengan perasaan yakin ia menyentuh batu besar itu.
Batu yang awalnya tak memancarkan cahaya apapun itu dalam sekejap mengeluarkan cahaya berwarna kuning yang pekat dan lebih pekat daripada seseorang yang membuat heboh tadi.
Semua orang terfokus pada angka yang mulai berubah 149, 150, dan terus berlanjut. Semua orang menahan napas ketika angka mulai masuk ke 151 dan belum juga berhenti.
Angka menunjukkan pada 155 dan itu dapat dikatakan sebuah keajaiban, tetapi angka itu masih tetap berjalan dan keributan mulai tak terkendali.
Perubahan angka mulai melambat dan tak lama kemudian angka berhenti tepat ketika batu itu menunjukkan bilangan 160.
“Hah? Gila...”
Orang-orang mulai heran terkagum-kagum. Sebuah angka yang fantastis untuk sebuah padepokan yang tersembunyi di antara hutan-hutan muncul seseorang yang menggemparkan seluruh kerajaan.
“Hahaha, masa depan padepokan ini akan cerah,” yang dipertuan agungkan beridiri dari tempat duduknya dan tersenyum senang pada Lina.
Lina melihati angka yang keluar dari batu berwarna kuning itu dengan senyum puas. Kemudian ia melihat ke arah yang dipertuan agungkan sembari berkata, “Terimakasih, Yang Dipertuan Agungkan.”
Tetua Wisnu terdiam ketika melihat angka-angka itu. Ini kali pertamanya seseorang yang belum menjadi murid menengah memiliki kekuatan kanuragan diatas 150 muncul di padepokan.
“Tetua Wisnu, tolong dilanjutkan,” tegur yang dipertuan agungkan.
“Ah, iya, maaf, Ndoro. 160! Tingkat Kuning Tahap Dua, lolos! Selanjutnya!”
Orang-orang kembali maju untuk bergiliran menunjukan kekuatan kanuragan mereka. Para pendekar utama mulai bersemangat karena hasil-hasil di awal tampak memuaskan.
Namun, tak lama hingga harapan itu sirna karena hasil yang keluar setelah Lina hampir kebanyakan gagal dan yang lolos tidak seberapa besarnya, hanya berkisaran pada 120 ke bawah.
Para perundung Yuri dan yang barusan menggangu Yuri pun hanya berada di tingkat satu secara seluruhan.
Namun, muka bangga dan meremehkan tetap mereka perlihatkan setiap salah satu dari mereka lulus dan melihat ke arah Yuri.
Waktu terus berlalu dan kini ujian tahap pertama mencapai puncaknya.
Hanya kurang satu murid lagi yang perlu menguji kekuatan kanuragannya.
Orang itu adalah Yuri dan kini ketika Tetua Wisnu berkata, “Selanjutnya!” dengan segera Yuri maju dan mendekat pada batu itu.
Tawa dan cemooh terdengar ditiap langkah Yuri mendekat ke batu. Para murid awal seperti sangat yakin bahwa Yuri akan gagal.
Tangan kiri Yuri kini sudah berada tepat di depan batu itu. Batu Hati mulai bersinar dan menunjukkan angka berwarna putih. Perlahan angka pada batu itu membus angka 100 dan merubah warna batu itu menjadi kuning.
Perubahan warna batu itu diikuti dengan perubahan raut muka sebagian besar murid awal itu. Muka yang awalnya meremehkan kini berubah menjadi kesal.
Angka itu kini menyentuh angka 150 dan semua orang kini berwajah seperti tak percaya. Batas dari tahap satu kini telah Yuri lampui dan kini perubahan angkanya semakin lambat, tetapi jelas peruhabnnya.
170, 171, 172. Angka terus berubah dan raut muka tak percaya semakin jelas tampak dari raut muka tiap orang. Para Pendekar Utama pun kini berdiri dari tempat duduknya dan semua terpaku pada angka yang kini telah berhenti berubah pada bongkahan batu bercahaya kuning itu.
“179!” seseorang dari barisan belakang murid awal teriak seakan tak percaya.
Angka terbesar dalam sejarah padeopakan untuk murid awal kini muncul dan mengemparkan tiap-tiap orang di padepokan.
“Hahaha, hebat-hebat. Muridmu sungguh berkah untuk padepokan ini, Tetua Jayendra.”
“Hahaha, terimkasih, Ndoro. Yuri memang murid yang berbakat, jadi tak ayal jika dia akan menjadi yang terhebat di kerjaan ini atau bahkan benua ini.”
Yuri mundur kembali ke barisnya dan ditiap langkah kembalinya itu, kini disertai muka orang-orang yang berubah menjadi kagum dan ada juga yang kesal.
Ujian pertama kini telah berakhir dan tanpa menuggu lama lagi, seluruh peserta yang lolos diperintahkan untuk pergi ke tepi pondok gedeh dan menunggu bagian mereka untuk memampilkan gerakan dasar pencak silat.
Hanya sekitar 100 murid yang kali ini lanjut ke ujian kedua dan semua murid itu mulai diuji ketepatan, kecepatan, dan kelincahan mereka dalam gerak dasar pencak silat.
Ujian ini tak menjadi maslah untuk Yuri dan bahkan ia mendapat poin yang cukup tinggi karena gerak dasarnya yang sangat tepat dan kuat.
Ketika ia memukul di udara, seperti ada sebuah hembusan angin yang berpusat dari tiap tangannya dan itu menandakan bahwa pukulan yang ia luncurkan itu bukan gerakan asal, melainkan pukulan bertenaga yang dapat menghempaskan belasan orang biasa dalam satu genggaman.
Murid yang tersisa dari ujian kedua kini masih sekitar 60-an orang. Murid-murid yang berhasil masuk ketahap tiga kini dapat bernapas lega karena kini hanya perlu melakukan sambung.
Seperti yang semua orang sudah tahu, ujian ketiga ini sudah dapat dibilang hanya menjadi ujian tambahan untuk dapat menentukan apakah ia akan mendapat pendekar utama sebagai guru peribadinya atau hanya sekadar menjadi murid menengah biasa.
Mendapat bimbingan dari pendekar utama secara langsung tentu menjadi harapan tiap murid karena dengan begitu seorang murid akan berkembang lebih pesat dan kemungkinan untuk menjadi lebih kuat terbuka lebar.
Semua murid yang berhasil masuk ujian terakhir kini kembali diperintahkan untuk membuat barisan di tengah-tengah pondok gedeh.
Ke-60 orang yang lolos ujian kedua kini membuat barisan. Muka tenang dan bangga kini mulai muncul dari kebanyakan murid-murid yang kini sudah dapat disebut murid menengah itu.
Ujian ketiga yang menjadi terakhir hanya bagaikan ujian pelengkap dan penentu kekuasaan di antara murid tahun ini.
Diantara ke-60 orang itu, hanya segelintir saja yang ingin mendapatkan julukan terkuat di antara murid baru dan Yuri bagian dari segelintir orang itu. Lebih tepatnya lagi, Yuri menginkan hadiah yang berupa Obat Pengental Kanuragan.
GLOSARIUM NUSANTARA 02
- Sarjana adalah orang yang menggunakan kekautan kanuragan sebagai jiwa dari sebuah manuskrip.
- **Manuskrip **adalah sebuah teks yang dituliskan dalam aksara jawa dan dapat diisi dengan kekuatan kanuragan sebagai jiwanya, sehingga dapat mengendalikan dan menciptkaan barang tergantung apa yang ditulis oleh sang sarjana.
- Upacara Kebangkitan Senjata Fisik Kanuragan adalah upacara untuk membangkitakan senjata Fisik Kanuragan dari tempat yang misterius. Ini hanya dapat dilakukan sekali dalam hidup dan dilakukan ketika berada di Tingkat kuning dan memiliki senjata fisik kanuragan.
- Gelanggang adalah tempat dilakukannya pertandingan pencak silat secara legal.
- Ujian Murid Awal adalah ujian yang diadakan setiap 10 tahun sekali. Ujian ini bertujuan menyaring bakat pendekar. Mereka yang berada di 10 besar atau tergantung kemampuan padepokan akan diajarkan secara pribadi oleh Pendekar Utama
- **Gedeh **adalah tempat acara-acara di adakan. Biasanya digunakan untuk melakukan Ujian Murid dan
- **Sambung **adalah pertandingan antar dua orang atau lebih untuk menentukan siapa yang lebih kuat dengan batasan dan pengamanan tertentu.
0 comments