Pendekar Hitam Nusantara - Ujian Murid Awal (1) - Chapter 18
Sudah beberapa bulan berlalu sejak Yuri naik tingkat dan kini ujian murid awal akan segera dimulai. Saat ini Yuri sedang dikumpulkan di Pondok Gedeh bersama para pendekar tahap awal lainnya.
Pondok Gedeh adalah sebuah tempat terbuka yang berbentuk lingkaran dan menghadap langsung ke gerbang depan padepokan.
Tempat itu menjadi pusat dari acara-acara besar seperti ujian kenaikan tingat hari ini dan sabung terbuka maupun sabung pribadi.
Pondok Gedeh ini terdiri dari lima bagian, yaitu bagian tengah yang merupakan gelanggang atau area sabung, bagian utara atau yang terjauh dari pintu masuk tempat batu takdir berada, bagian timur menjadi tempat duduk para pendekar utama termasuk tamu penting lain, bagian barat menjadi tempat penonton biasa, dan bagian selatan menjadi pintu masuk.
Saat ini Yuri dan semua murid awal lain yang ingin mengikuti ujian agar dapat naik menjadi murid menengah berbaris dengan rapi karena tak lama lagi seseorang pendekar utama akan menyampaikan peraturan dan tatacara ujian pada mereka.
“Oi, oi, coba lihat siapa itu?” seseorang murid dari barisan belakang melihat kepada Yuri dengan muka dan tingkah mengejek. “Pecundang yang berlindung pada perempuan.”
“Hahaha...,” beberapa orang lain ikut menertawai Yuri.
Yuri tak memperdulikan cemooh orang-orang itu dan pandangannya hanya terfokus pada para pendekar utama yang mulai memenuhi bagian timur Pondok Gedeh.
Yang Dipertuan Agungkan Padepokan Aryaguna, Dahat Sindursana datang dan duduk tepat di tengah kumpulan orang kuat itu. Pendekar Utama Jayendra berada tepat di sebalah kanannya dan terlihat terjadi percakapan ringan diantara keduanya.
Di sebelah kiri orang yang paling dihormati di padepokan ini adalah pendekar utama yang sama yang muridnya pernah Tetua Jayendra potong, pendekar utama itu adalah Tetua Damba.
Tetua Damba terlihat tak senang dengan percakpan kedua orang penting itu dan kini perasaan tak senangnya di alihkan ke Yuri yang sedari tadi memperhatikan mereka bertiga.
Yuri tak takut pada pendekar utama itu dan malahan ia melotot ganti pada tetua itu, sehingga membuat sang Tetua Damba murka dan hampir saja ia mengeluarkan sabuk kanuragannya jika Yang Dipertuan Agungkan Dahat Sindursana yang berada di sebelahnya tak segera menyadarinya.
“Sudahlah, anak muda itu hanya terlalu bersemangat.”
Mendengar perkataan orang yang lebih kuat darinya itu membuat sang Tetua Dahat hanya dapat meminta maaf dan segera duduk kembali dengan tenang.
“Woy, kalo orang ngomong perhatiin, dong!”
Orang yang sedari tadi Yuri biarkan mengoceh sendiri kini mulai marah dan seseorang yang terlihat seperti pemimpin dari kumpulan orang itu mendekati Yuri dan mencoba untuk memukulnya.
Namun, pukulan itu Yuri tangkap dan kini tangan orang itu Yuri cengkram dengan kuat hingga orang itu berteriak kesakitan.
Orang-orang yang melihat adegan itu hanya dapat tercengang dan bingung karena ternyata kekuatan yang Yuri perlihatkan tak seperti rumor yang beredar.
Orang yang barusan Yuri kalahkan bukanlah orang lemah karena orang itu adalah salah satu murid pribadi pendekar utama, sehingga setidaknya ia sudah dapat dipastikan lolos ujian.
“Cukup! Kalian mau dikeluarkan sebelum ujian dimulai!?”
Seseorang pendekar utama yang baru saja datang ke depan barisan itu segera menegur para murid awal yang sedang berkelahi itu dan Yuri segera melepaskan cengramannya.
"Cepat semuanya berbaris sesuai urutan yang telah kalian ambil ketika mendaftar ujian!”
Para pengganggu tadi tak berani melawan perintah tetua itu dan mereka segera kembali ke barisan awal mereka yang berada di belakang, sedangkan Yuri tetap di barisannya yang berada di tengah-tengah kelompok murid yang akan mengikuti ujian itu.
“Saya Tetua Widura yang akan menjadi wasit pada ujian ini dan jurinya adalah semua pendekar utama.”
Pendekar utama itu mulai menjelaskan peraturan dan apa saja ujian yang akan para murid awal itu jalani.
Ujian Murid Awal ini memiliki 3 bagian, yaitu ujian pengukuran kekuatan kanuragan, kemantapan gerak dasar atau dapat disamakan dengan seni pencak silat, dan yang terkhir sabung.
Seperti namanya pada pengukuran kekuatan kanuragan para murid akan diukur kekuatan kanuragannya dengan sebuah batu yang bernama ‘Batu Hati’.
Batu itu memiliki kepekaan dengan kekuatan kanuragan dan dapat mengukur seberapa kuat kekuatan kanuragan yang dimiliki oleh seorang pendekar, sehingga batu itu yang akan menjadi penentu apakah para calon pendekar itu dapat lanjut atau tidak.
Untuk lulus pada ujian pertama sebenarnya cukup mudah, yaitu para murid awal hanya perlu berada di tingkat kuning untuk langsung lanjut ke tahap berikutnya.
Pada ujian kedua, yaitu kemantapan gerak dasar, para murid awal akan di ukur kecepatan, ketepatan, dan kemantapan gerakan dasar pencak silat mereka.
Kualifikasi pada ujian kedua ini lebih rendah dari pada ujian sebelumnya, para pendekar hanya perlu mendapat poin diatas 50 untuk lolos dari rentan penilaian 1 hingga 100 dan penilaian itu akan diberikan oleh Yang Dipertuan Agungkan atas saran dari para pendekar utama lainnya.
Pada ujian terkhir atau ujian sabung, para murid awal itu akan melakukan sabung satu lawan satu dengan sesama murid awal.
Sebenarnya pada ujian kedua para murid awal sudah dapat dikatakan menjadi murid menengah karena pada ujian ketiga ini hampir secara keseluruhan murid akan lolos dan hanya bila terjadi cidera parah atau hingga kematian yang dapat membuat seorang murid itu tak lolos.
Ujian ketiga itu juga akan menjadi penentu dari peringkat kekuatan murid menengah baru di padepokan dan yang berhasil mendapat juara satu akan mendapat hadiah yang sanagat bagus dari yang dipertuan agungkan.
Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Tetua Widura, Yang Dipertuan Agungkan Dahat Sindursana segera berdiri dan ia mengerakan tangannya sebagai kode, kemudian datang orang yang terbang di langit dengan membawa sebuah gong emas.
Kedua orang itu memiliki sabuk kanuragan berwarna biru dan semua murid awal takjub dengan kekuatan mereka tak terkecuali Yuri yang baru kali ini melihat seseorang pendekar yang dapat terbang.
Kedua orang itu meletekkan gong emas di depan Yang Dipertuan Agungkan Dahat Sindursana. Kemudian yang dipertuan agungkan mendekat pada gong itu dan mengambil pemukul yang di bawa oleh murid yang berada di dekatnya.
Gong...
Gong itu dipukul dan artinya ujian murid awal secara resmi dimulai.
Semua murd awal mulai menyiapkan diri. Ada yang mulai membungkus tangan mereka dengan perban, ada yang mulai mengelap pedang mereka, dan ada juga yang melakukan pemanasan dengan menendang atau memukul karung pasir.
Yuri pribadi memilih duduk dan memutuskan untuk kembali bermeditasi. Yuri sudah melakukan pemanasan tadi pagi dengan menarik sebuah batu besar naik-turun Bukit Candrakara dan kini memulihkan tenaga ada prioritasnya.
Latihan menarik batu yang beratnya sekitar 200 pon ia lakukan sejak ia berada di tingkat kuning dan memang latihan itu diberikan langsung oleh Tetua Jayendra demi memperkuat tubuh Yuri.
“Apa yang dia lakukan? Bermeditasi saat ini tidak ada gunananya!”
“Iya, seharusnya ia melakukan pemanasan.”
“Hahaha, mungkin pecundang itu sudah menyerah.”
Satu persatu murid mulai dipanggil untuk mengukur kekuatan kanuragannya di sebuah Batu Hati besar yang telah diletakkan oleh pendekar utama ketika upacara pembukaan berakhir.
Seseorang maju dan mulai menyentuh batu yang seukuran dengan 3 orang pendekar dewasa itu. Murid itu mulai memasukkan kekuatan kanuragannya dan dalam sekejap warna batu itu menjadi putih dan sebuah angka yang berwarna putih gelap juga muncul di tengah-tengah batu itu.
“95! Tingkat Putih Tahap Tiga, gagal! Sealanjutnya.”
“Hah, padahal sedikit lagi,” seseorang yang barusan mengukur kekuatan kanuragannya mengeluh karena hanya 5 kekuatan kanuragan lagi hingga ia naik ke tingkat kuning, tetapi peraturan tetap peraturan ia tak dapat mengelak lagi dan hanya dapat mengulang di tahun depan.
“100! Tingkat Kuning Tahap Satu, lolos! Selanjtunya!” kali ini batu itu berubah menjadi kuning dan warna tulisannya kuning gelap.
“80! Tingkat Putih Tahap Tiga, gagal! Sealanjutnya!”
“140! Tingkat Kuning Tahap Satu, lolos! Selanjutnya!”
“Wow, 140, orang itu pasti akan di ambil oleh pendekar utama sebagai murid pribadi.”
Orang-orang mulai mengoceh tentang seseorang yang tak lama lagi mencapai tahap dua karena hal itu sudah dapat dianggap hebat untuk ukuran padepokan kecil seperti Padepokan Aryaguna ini.
“Se... se... , 150! Tingkat Kuning Tahap Dua, lolos! Selanjutnya!”
“Apa? Dia pasti murid awal paling terkuat di padepokan ini!”
Munculnya Tingkat Kuning Tahap Dua membuat semua murid dan pendekar utama gempar. Memang saja untuk padepokan ini mendapat murid baru yang sudah mencapai tahap dua mejadi berkah yang tak terhingga dan sudah dapat dipastikan ia akan menjadi pendekar yang hebat kelak di masa depan.
Yuri saat ini juga sedang merasa heran, tetapi yang membuatnya heran bukanlah murid awal itu, tetapi Tetua Damba yang tersenyum dan terlihat paling senang diantara semua orang.
Murid awal itu segera turun dan mendekat pada Yuri yang sudah membuka mata karena keributan tadi.
“Aku tunggu kamu di ujian terkahir, itu juga jika kamu dapat lolos didua ujian lainnya!”
Tantangan itu di arahkan pada Yuri dan membuat perasaan penasaran Yuri hilang. Dia dapat yakin bahwa murid awal itu pasti murid pribadi Tetua Damba.
Tetua Damba pasti ingin membalas dendam pada Tetua Jayendra yang dulu pernah mematahkan tangan murid pribadinya dengan menggunakan murid jeniusnya itu.
“Hahaha, habislah pecndang itu!”
Orang itu lewat dengan tamaknya dan segera menghilang entah kemana.
Setelah menunggu beberapa lama dan kali ini giliran Yuri untuk mengukur kekuatan kanuragannya. Yuri maju tanpa ragu dan segera mendekati batu, tetapi ketika tangannya hampir saja meneyentuh batu itu tiba-tiba Tetua Jayendra berteriak padanya.
“Tunggu, Yuri!” semua orang terlihat bingung pada apa yang dilakukan oleh tetua yang misterius itu.
“Ada apa Tetua Jayendra, apakah ada yang salah?” tanya Yang Dipertuan Agungkan Dahat Sindursana.
“Ah, bukan, Ndoro, saya hanya ingin mengajukan satu permintaan.”
“Apa itu?”
“Tolong biarkan Yuri melakukan penilaian terakhir.”
Yang Dipertuan Agungkan Dahat Sindursana terlihat bingung, tetapi ia tidak terlalu mempermasalahkan permintaan itu dan dengan cepat ia menjawab, “Baiklah, Yuri kamu dapat mundur terlebih dahulu.”
“Baik!”
Semua orang bingung pada permintaan Tetua Jayendra itu. Ada apa dengan Yuri hingga ia harus menunda penilaian itu. Semua orang mulai bersepekulasi dan spekulasi, spekulasi itu semakin liar.
“Hahaha, pasti Tetua Jayendra juga melindungi pecundang itu, beliau pasti takut melihat muridnya gagal!”
Seseorang mulai mengutarakan pemikiran dangkalnya itu dan membuat banyak orang yang percaya, sehingga keributan tak terhindarkan.
“Semuanya diam! Kita lanjutkan ujiannya!”
GLOSARIUM NUSANTARA 02
- Sarjana adalah orang yang menggunakan kekautan kanuragan sebagai jiwa dari sebuah manuskrip.
- Manuskrip adalah sebuah teks yang dituliskan dalam aksara jawa dan dapat diisi dengan kekuatan kanuragan sebagai jiwanya, sehingga dapat mengendalikan dan menciptkaan barang tergantung apa yang ditulis oleh sang sarjana.
- Upacara Kebangkitan Senjata Fisik Kanuragan adalah upacara untuk membangkitakan senjata Fisik Kanuragan dari tempat yang misterius. Ini hanya dapat dilakukan sekali dalam hidup dan dilakukan ketika berada di Tingkat kuning dan memiliki senjata fisik kanuragan.
- Gelanggang adalah tempat dilakukannya pertandingan pencak silat secara legal.
- Ujian Murid Awal adalah ujian yang diadakan setiap 10 tahun sekali. Ujian ini bertujuan menyaring bakat pendekar. Mereka yang berada di 10 besar atau tergantung kemampuan padepokan akan diajarkan secara pribadi oleh Pendekar Utama
- Gedeh adalah tempat acara-acara di adakan. Biasanya digunakan untuk melakukan Ujian Murid dan pada bagian utara terdapat sebuah batu takdir.
0 comments