Pendekar Hitam Nusantara - Bayangan Hitam - Chapter 17


Di sebuah penginapan wilayah Kerajaan Sunda, terdapat sekelompok orang misterius yang menutup seluruh tubuh mereka dengan jubah panjang bertudung. Jubah mereka berwarna hitam dan tanpa motif yang jelas.

Mereka berjalan dengan perlahan memasuki sebuah ruangan yang sudah dipesan sebelumnya dan berada di lantai tiga penginapan tersebut.

Seseorang pria yang terakhir masuk menutup pintu dengan menengok kekanan dan kiri terlebih dahulu untuk memastikan keamannan mereka.

Dua orang dari mereka memiliki badan yang besar dengan tinggi sekitar 6 kaki dan satu orang lagi berbadan lebih kecil dengan tinggi sama, tetapi terlihat lebih mendominasi karena kedua orang berubuh kekar itu berlutut di hadapan orang itu.

“Bagaimana, apa kalian menemukan anak itu?”

“Kami berhasil melacak keberadaan anak itu, ia ada di Padepokan Aryaguna,” orang yang berbicara mendongak dan tetap dengan salah satu tangan berada di depan dan tangan lainnya di belakang.

Setelah berhenti berbicara, pria berbadan kekar itu menundukkan kembali kepalanya sebagai tanda kepatuhan dan rasa hormat.

“Bagus, lalu bagaimana dengan penjaganya?”

“Kami tidak tahu tingkatan penjaga itu. Kami belum pernah melihat orang itu menggunakan sabuk kanuragannya. Namun, sepertinya kekuatannya sangat kuat menurut rumor-rumor yang ada.”

Orang yang paling kecil itu dengan cepat mengeluarkan sabuk kanuragan berwarna merahnya. Matanya berubah menjadi mata seekor macan dan dari mata itu keluar cahaya putih yang menyilakuan orang-orang yang melihatnya.

“Kalian hanya mencari dari rumor!”

Dengan marah, orang itu mencengkram jubah salah satu orang yang paling dekat dengannya dan dari matanya muncul aura membunuh yang sangat kuat.

Kedua orang itu takut dengan kekuatan yang dipancarkan oleh orang itu dan mereka dengan pasrah menunduk dan meminta maaf. Sang ketua yang kembali reda amaranya segera melepaskan cengkraman itu dan orang berbadan kekar itu kembali ke posisi semula.

“Lalu bagaimana, Ketua? Apakah kita harus kembali dan mencoba menyerangnya terlebih dahulu?”

Orang yang paling kurus dan dipanggil ketua itu terlihat berpikir. Dia melihat kearah dua orang itu dan mencoba mengingat tingkatan kekuatan kedua bawahannya itu.

“Kalian saat ini tingkat biru, kan?”

“Iya, Ketua.”

“Sepertinya tidak perlu, kita tidak tahu juga kekuatan orang itu dan yang pasti orang itu tidak mungkin lemah dari tingkat merah.”

“Apa kita kembali ke Kerajaan Majapahit?”

Cahaya yang keluar dari bola mata yang putih itu kembali bersinar lebih kuat dan kali ini aura mencekap terasa menusuk kedua orang itu. Bawahan yang terakhir berbicara ia tendang hingga terpental dan menabrak dinding kayu.

Pria berbadan kekar itu mengalami luka dalam yang tidak terlalu parah dan hanya sedikit darah keluar dari mulutnya.

“Apa kau bodoh? Ini misi rahasia, jangan sebutkan itu selama misi!”

Tudung pria yang jatuh itu terbuka dan menampakkan muka hingga lehernya. Di leher pria itu terlihat sebuah tato yang berbentuk lingkaran dan bergambarkan sebuah prisai yang seperti roda dengan ruji-ruji berbentuk ujung tombak.

Di bawah tato itu ada tato lain dengan gambar tiga garis yang merata dan digunakan sebagai penanda tingkat suatu pangkat di sebuah pasukan.

“Ma... Maaf, Ketua!”

Pria berambut pendek kriting itu dengan reflek menutup kembali tudungnya dan segera kembali berlutut di hadapan ketuanya.

“Tiga bulan lagi akan diadakan ujian murid awal di setiap padepokan dan artinya tidak lama lagi pasti anak itu akan kembali ke Kerajaan Medang.”

“Iya, Ketua, sesuai kabar yang kita terima.”

“Kalo begitu kita tunggu hingga ujiannya selesai.”

“Baik, Ketua!”

Kedua orang berbadan kekar itu mengeluarkan sabuk kanuragan mereka yang sama-sama berwarna biru dan di belakang badan mereka keluar bayangan hewan babirusa bermata hitam dengan sabuk kanuragan berwarna hijau di pinggang masing-masing babirusa itu.

‘Hewan Buas Kanuragan Babirusa’ mengeluarkan aura hitam yang menyelimuti seluruh punggung masing-masing pendekar.

Aura hitam itu dengan cepat menelan sang pendekar dan membuat sang pendekar berubah menjadi wujud setengah babirusa. Mata mereka berubah menjadi tipis dengan bola mata dan kantung mata hitam.

Kuping mereka berujung lancip dan ada 4 tanduk di kepala. Tangan dan kaki mereka menghitam dan membesar.

Ketika seluruh badan mereka sudah berubah menjadi setengah babirusa, sabuk kanuragan berwarna hijau yang sebelumnya mengitari pinggang babirusa itu kini mengitari pinggang para pria itu tepat di atas sabuk kanuragan berwarna biru mereka.

“[Bayangan Hitam]!” kedua orang itu mengucapkan mantra yang sama.

Ketika mantra itu diucapkan, secara cepat tubuh mereka tersedot bayangan mereka dan jejak dari bayangan itu terlihat meninggalkan ruang untuk pergi kesuatu tempat.

Ketua dari ketiga orang itu membuka tudungnya dan menatap ke sebuah daun lontar yang sudah diberi tulisan. Pria itu kemudian berjalan keluar ruang dan menuju balkon penginapan.

“Fuit...”

Suara siulan itu membuat seekor burung hantu terpanggil dan hinggap di tangan pria itu. Dengan muka tersenyum pria itu mengelus kepala burung hantu itu dan menyelipkan daun lontar di sebuah kantong yang tersembunyi diantara bulu-bulu.

Setelah daun lontar itu tersembunyi, pria itu segera membuka sebuah perkamen yang ia simpan dibalik jubahnya dan ketika dibuka perkamen itu terlihat memiliki sebuah manuskrip di dalamnya.

Pria itu meletakkan burung hantu di tengah-tengah manuskrip yang berbentuk lingkaran dan ada aksara-aksara yang tertulis secara melengkung menyesuaikan lingkaran itu.

Kemudian pria itu mengambil pedang pendeknya dan melukai jari manisnya agar darah keluar. Darah yang menetes dari luka, ia teteskan di atas manuskrip itu, sehingga membuat manuskrip itu bersinar.

Burung hantu yang berada di tengah manuskrip itu matanya berubah menjadi hitam dan dengan cepat terbang meninggalkan pria itu.

Burung hantu itu terbang menerjang malam dengan kecepatan dan kesunyian yang mengerikan. Tak ada suara, tak ada jejak, dan tak ada bukti. Burung itu menghilang diantara langit malam.



GLOSARIUM NUSANTARA 02
  1. Sarjana adalah orang yang menggunakan kekautan kanuragan sebagai jiwa dari sebuah manuskrip.
  2. Manuskrip adalah sebuah teks yang dituliskan dalam aksara jawa dan dapat diisi dengan kekuatan kanuragan sebagai jiwanya, sehingga dapat mengendalikan dan menciptkaan barang tergantung apa yang ditulis oleh sang sarjana.
  3. Upacara Kebangkitan Senjata Fisik Kanuragan adalah upacara untuk membangkitakan senjata Fisik Kanuragan dari tempat yang misterius. Ini hanya dapat dilakukan sekali dalam hidup dan dilakukan ketika berada di Tingkat kuning dan memiliki senjata fisik kanuragan.
  4. Gelanggang adalah tempat dilakukannya pertandingan pencak silat secara legal.
  5. Ujian Murid Awal adalah ujian yang diadakan setiap 10 tahun sekali. Ujian ini bertujuan menyaring bakat pendekar. Mereka yang berada di 10 besar atau tergantung kemampuan padepokan akan diajarkan secara pribadi oleh Pendekar Utama
  6. Gedeh adalah tempat acara-acara di adakan. Biasanya digunakan untuk melakukan Ujian Murid dan pada bagian utara terdapat sebuah batu takdir.

You Might Also Like

0 comments