Pendekar Hitam Nusantara - Kenaikan ke Tingkat Kuning - Chapter 16
Sebuah sinar yang sangat terang keluar dari jantung seseorang yang sedang bermeditasi. Cahaya itu berwarna putih, tetapi bukan putih yang biasa karena warna putih itu seperti sudah ternodai. Cahaya itu membentuk lingkaran yang berputar-putar di depan jantung.
Cahaya itu adalah sabuk kanuragan yang sedang mengental dan tak lama lagi akan hancur. Bukan hancur untuk selamanya, tetapi hancur untuk membentuk sabuk yang baru.
Sabuk kanuragan itu kini bergerak menuju tepat di depan muka orang itu. Sabuk yang berbentuk lingkaran cahaya dengan lobang di tengahnya itu kini berubah bentuk menjadi sebuah bola cahaya yang padat.
Bola itu mengeluarkan cahaya putih dan lama kelamaan cahaya itu makin terang dan setelah beberapa saat meledak menjadi butiran cahaya putih yang tersebar bagaikan jutaan bintang yang sedang berputar pada satu inti yang lebih besar dari butiran lainnya.
Semakin lama inti dari butiran-butiran itu semakin gelap dan kini warna putihnya hilang digantikan warna kuning yang terang. Secara bertahap dan cepat wanra putih dari butiran-butiran putih itu kini warnanya tergantikan secara merata.
Butiran yang bagaikan bintang itu kini mulai menyatu lagi dan membentuk sebuah bola berwarna kuning cerah. Bola itu berputar dan lama-kelamaan bola itu menjadi pipih dan berlobang.
Bola itu berubah menjadi sabuk kanuragan dan setalah sabuk itu berbentuk lingkaran sempurna, sabuk itu bergerak menuju jantung dan masuk menembus kulit hingga tak tersisa apapun.
“Fuah...”
Yuri menghela napas lega karena sudah 1 bulan ini ia tidak beranjak dari tempat bermeditasinya. Tubuhnya terasa sangat lemah, tetapi disaat yang sama ia merasa dapat menghancurkan sebuah batu besar.
Yuri naik ke tingkat kuning setelah bermeditasi selama 1 bulan tanpa henti. Saat ini kekuatan kanuragannya kosong karena baru saja ia mengalami kenaikan tingkat, sehingga ia memutuskan untuk langsung melakukan meditasi lagi agar ada kekuatan kanuaragan di tubuhnya.
“Yuri, tunggu sebentar.’
Namun, belum sempat Yuri memulai meditasi, ia terganggu karena suara dari Tutua Jayendra yang ingin berbicara padanya.
“Ada apa, Guru?”
“Kau sudah berhasil naik ke Tingkat Kuning, kan?”
“Iya, Guru, seperti yang Anda lihat.”
“Yah, meskipun agak terlambat, tetapi selamat karena sudah berhasil naik ke tingkat kuning lebih cepat dari rata-rata murid padepokan.”
Kenaikan tingkat Yuri ke tingkat kuning lebih cepat dari murid padepokan memang sudah Tetua Jayendra prediksi sedari awal karena memang bakat Yuri sejak lahir sudah terlihat.
Namun, waktu yang Yuri perlukan untuk naik tingkat tidak sesuai prediksinya. Entah mengapa Yuri terlambat naik ke tingkat kuning, seharusnya ia sudah naik ke tingkat itu sebulan atau dua bulan yang lalu.
Mungkin karena banyaknya pikiran, sehingga Yuri sulit untuk bermeditasi. Hal itu membuat Tetua Jayendra sedikit bingung dan ingin memastikan langsung pada muridnya itu karena bila ini terus berlanjut perkembangan Yuri di masa depan akan terganggu.
“Kamu harus lebih fokus lagi, Yuri. Gurukan sudah bilang, kamu tidak perlu memikirkan wanita itu. Selama kamu kuat kamu pasti akan mendapatkan wanita manapun yang kamu inginkan.”
“Tidak, Guru, aku tidak akan mencari wanita lain. Namun, saya juga merasa aneh mengapa kekuatan kanuragan saya berkembang lebih lambat ketika saya berada di tingkat putih tahap tiga. Saya memang masih sedikit memikirkan Indira akhir-akhir ini, tetapi saya tetap dapat mengosongkan pikiran dengan normal.”
“Seberapa turunnya?”
“Mungkin setengah dari biasanya.”
“Hm, itu cukup aneh. Memang normalnya perkembangan kekuatan kanuragan akan sedikit melambat ketika berada di tahap akhir karena ketika akan naik tingkat kuning terjadi pembentukan senjata fisik kanuragan.”
“Oh, panatas saja saya merasa ada yang terbentuk di jantung saya.”
“Tapi ini tetap cukup aneh. Harusnya tidak sampai setengahnya, seharusnya hanya sepertiganya saja kamu mengalamai penurunan.”
“Saya pun tak paham, Guru, hehehe.”
“Dasar murid bodoh!” Tutua Jayendra memegang kepala Yuri dan melanjutkan perkatannya, “Seperti yang dulu pernah guru janjikan, guru akan memberi tahu siapa orang tuamu ketika nanti kamu lulus menjadi murid menengah.”
“Berarti saya perlu menunggu 4 bulan lagi?”
“Iya, jadi karena kita masih punya banyak waktu, kamu setidaknya harus mencapai tahap 2 ketika ujian nanti.”
“Baik, Guru!”
Yuri diam sejenak dan mencoba fokus pada kekuatan kanuragan di jantungnya. Ia mencoba mencari sesuatu yang sejak dulu ingin dia miliki.
Namun, setelah beberapa saat mencoba usahnya menjadi sia-sia. Yuri tidak dapat melihat apapun di dalam jantungnya yang dapat ia sebut senjata fisik kanuragan.
“Ah, iya, Guru, kenapa saya tidak menemukan senjata fisik kanuragan saya?”
“Apa, guru belum pernah memberi tahumu?” mata Tetua Jayendra penuh selidik.
“Belum, Guru!” Yuri menggerutu kesal.
“Maaf, sepertinya guru lupa memberi tahumu. Saat ini kamu belum bisa memiliki senjata fisik kanuragan yang sesunguhnya. Kamu akan bisa memilikinnya nanti setelah ‘Upacara Kebangkitan Senjata Fisik Kanuragan’ yang akan dilakukan setelah ujian murid awal berakhir.”
“Upacara seperti apa itu, Guru?”
“Hm, bagaimana menjelaskannya, ya? Yang pasti nanti kalian akan dikumpulkan di ‘Pondok Gedeh’ dan disana kau tahu, kan, ada sebuah batu besar?”
“Ah, batu yang banyak aksara-aksara aneh itu?”
“Iya, nanti kalian akan memasukan kekuatan kanuragan ke dalam sana dan yah, seperti itulah. Kamu akan tahu sendiri ketika melakukannya secara langsung.”
“Hehehe, Guru pasti tidak tahu cara kerjanya, kan?”
Tetua Jayendra dengan kesal menekan kepala Yuri hingga bibirnya hampir menempel pada alas tempat ia bermeditasi.
“Sakit, Guru!”
“Kau ini, guru bukannya tidak tahu, hanya saja itu memang tidak penting untuk guru.”
“Hehehe dasar guruku ini.”
Tetua Jayendra pergi meninggalkan Yuri yang kini mulai bermeditasi lagi. Tubuhnya yang kecil jika dibandingkan dengan pendekar utama yang lain itu, ia bawa menuju sebuah penyimpanan arsip yang berada di kamarnya.
Pria bermata bulat dengan lesung pipi lumayan terlihat itu kini mulai menulis sebuah surat di daun lontar yang terlihat masih bagus.
Tangannya yang lumayan besar itu dengan teliti menuliskan sebuah pesan yang dituliskan dengan aksara yang tidak terkenal di Kerajaan Sunda ini.
Entah dengan tujuan apa atau memang sudah menjadi kebiasaan tetua yang misterius itu menuliskan surat dengan aksara asing itu. Surat itu kini ia gulung menjadi sekecil wadah yang sudah ia siapkan.
Tetua Jayendra kembali berjalan menuju sebuah kandang merpati yang berada di dekat jendela kamarnya. Ia mengambil merpati yang entah dimana pasangannya itu.
Di punggung merpati itu ada sebuah wadah yang terbuat dari bambu dan memiliki lubang untuk memasukan sebuah barang yang kecil.
Ukuran lubang itu cukup atau memang sudah dipertimbangkan oleh Tetua Jayendra untuk membawa surat yang barusan ia tulis. Ia memasukan surat itu dan segera mentupnya dengan tutup yang sudah diberi sebuah manuskrip terlebih dahulu.
Manuskrip itu bertujuan agar orang yang dapat membuka wadah itu hanyalah orang yang ia tuju dan bila wadah itu dibuka secara paksa maka surat di dalamnya akan terbakar habis.
Setelah memastikan semuanya sesuai apa yang ia inginkan, Tetua Jayendra segera melepaskan merpati itu. Dia membiarkan merpati itu terbang mencari belahan jiwanya.
“Tidak lama lagi, saya akan segera kembali.”
GLOSARIUM NUSANTARA 02
1.Sarjana adalah orang yang menggunakan kekautan kanuragan sebagai jiwa dari sebuah manuskrip.
2. Manuskrip adalah sebuah teks yang dituliskan dalam aksara jawa dan dapat diisi dengan kekuatan kanuragan sebagai jiwanya, sehingga dapat mengendalikan dan menciptkaan barang tergantung apa yang ditulis oleh sang sarjana.
3. Upacara Kebangkitan Senjata Fisik Kanuragan adalah upacara untuk membangkitakan senjata Fisik Kanuragan dari tempat yang misterius. Ini hanya dapat dilakukan sekali dalam hidup dan dilakukan ketika berada di Tingkat kuning dan memiliki senjata fisik kanuragan.
4. Gelanggang adalah tempat dilakukannya pertandingan pencak silat secara legal.
5.Ujian Murid Awal adalah ujian yang diadakan setiap 10 tahun sekali. Ujian ini bertujuan menyaring bakat pendekar. Mereka yang berada di 10 besar atau tergantung kemampuan padepokan akan diajarkan secara pribadi oleh Pendekar Utama
6. Gedeh adalah tempat acara-acara di adakan. Biasanya digunakan untuk melakukan Ujian Murid dan pada bagian utara terdapat sebuah batu takdir.
0 comments