Pendekar Hitam Nusantara - Perpisahan - Chapter 15
Suara wanita yang tak asing untuk Yuri terdengar jelas dari arah belakangnya. Jantung Yuri tiba-tiba berdetak cepat, bukan karena ia sedang bermeditasi ataupun terjadinya kesalahan pada meditasnya barusan, tetapi perasaan senang yang membuat dirinya tak sabar.
Kali ini ia dapat tersenyum setelah satu minggu ini hanya muka murung yang ia tampilkan. Matahari hampir terbenam dan esok hari adalah hari terakhir Indira berada di padepokan ini. Mungkin ini juga menjadi salam terakhir wanita itu pada tempat ini.
Untuk sejenak mereka terdiam menyaksikan matahari tengelam terakhir Indira di padepokan ini. Perasaan rindu Yuri pendam untuk sementara hingga matahari tak terlihat lagi untuk hari ini.
Indah sang surya tak lagi nampak, bayangan Indira mulai tak terlihat, dan gelap malam mulai menyelimuti kedua orang itu. Udara dingin mengatikan kehangatan sang surya dan kini yang tersisa dari matahari hanyalah kenangan yang indah.
“Mengapa kamu tidak mau menemuiku?”
Indira ragu untuk menjawab dan setelah helaan napas yang kesekian kalinya barulah ia memberi jawaban, “Hubungan kita tak bisa terus seperti ini. Bila lebih jauh lagi semua hanya akan berakhir kecewa lebih jauh lagi untuk kita berdua.”
“Sebenarnya ada apa, apa kamu sudah dijodohkan?”
Memang sudah menjadi sebuah tradisi keluarga untuk menjodohkan anak gadisnya dengan keluarga yang jelas bobot- bibit-bebet-nya, tetapi itu biasanya hanya dilakukan oleh keluarga besar dan memiliki tujuan tertentu seperti hubungan politik dan terlebih lagi tradisi itu terkenal hanya di Benua Selatan.
“Seperti itulah.”
Yuri berdecak, untuk kesekian kalinya ia mendengar hal yang membuatnya kesal dan marah. Terlalu banyak masalah menimpa hidupnya dan ia tak tahu harus kemana ia mengadu.
“Kamu hanya perlu menolaknya, kan?”
“Tidak bisa semudah itu karena ini menyangkut dua kerajaan dan bila...,” perkataan
Indira terhenti dan ia semakin menjauhkan wajahnya dari Yuri.
“Dua kerajaan? Menagapa bisa begitu?”
“Aku tidak bisa mengatakan lebih dari ini dan hari ini adalah hari terakhir kita dapat bertemu karena besok aku harus kembali ke kediamanku.”
“Kenapa? Apakah kamu akan menyerah begitu saja atau kamu kini membenciku?” Yuri berjalan mendekati Indira dan kini jarak mereka hanya sebatas melangkah.
“Tidak..., aku tidak membencimu, aku... aku... aku mencintaimu.”
Indira tak lagi kuasa membendung ait matanya. Air mata mulai menetes perlahan dan membasahi pipinya yang indah. Wanita itu kini mendekatkan kepalnya di dada Yuri dan Yuri mendekapnya dengan perasaan hancur.
“Lalu apakah kamu akan mengakhirinya begitu saja?”
“Seperti yang pernah aku bilang. Semua ini terlalu besar untukmu dan juga untukku.”
Tangis Indira makin tak terbendung. Wanita itu telah mengalah pada takdir dan mencoba tak menghiraukan perasaannya sendiri. Yuri yang tak tahu harus melakukan apa, hanya dapat mendekap wanita itu semakin erat di pelukannya.
Malam semkin larut dan air mata tak lagi dapat menetes. Kesedihan sudah pada ujungnya dan kini pasrah hanyalah jalan satu-satunya. Wanita itu hanya percaya pada hal itu dan kini tangannya mengengam tangan pria itu untuk pertama dan terkahir kalinya.
Setelah lama ia menggengam tangan pria itu, senyum kecil yang bagaikan tanda perpisahan ia berikan untuk sekadar memuaskan hatinya karena ia tahu setelah semua ini berakhir, hidup tanpa memperdulikan perasaan yang akan ia jalani.
Indira menjauhkan tangan Yuri dan membalikan badan dan berlalri pergi meninggalkan satu-satunya pria yang pernah dan hingga kini masih mengisi hatinya. Ia tau melupakannya akan sulit, tetapi memang sudah tak ada lagi jalan lain.
Tubuh wanita itu kini sudah tak dapat Yuri lihat dari tempatnya terduduk lesu dengan pikiran tak karuan. Yuri masih mencoba berharap adanya harapan, berharap untuk sekecil apapun kesempatan.
*****************
“Kamu beneran enggak akan kembali ke sini lagi?”
“Iya,” wanita itu mengangguk kemudian mengambil sebuah surat yang sebelumnya dibawa oleh seseorang yang berada di belakangnya. “Ini surat rekomendasi yang aku janjikan padamu dulu.”
“Wow, kamu benaran memberikannya.”
Sahabat wanita itu masih saja tak percaya dapat menerima surat yang sangat berharga itu dengan mudahnya. Tidak sembarang orang dapat mendapatkan surat itu, tetapi lebih sulit lagi untuk memalsukannya karena surat ini memerlukan stempel kerajaan yang mendapat pengakuan Padepokan Mahawira, sehingga dapat dipastikan bahwa surat itu asli.
“Tapi, kamu beneran langsung pergi, tidak menunggu Yuri dulu?”
“Tidak perlu, kami sudah bertemu tadi malam.”
“Oh, seperti itu. Kalo begitu hati-hati dijalan dan jangan terlalu memaksakan diri untuk berlatih.”
“Iya-iya, kalo begitu aku pergi dulu.”
Wanita itu pergi meninggalkan semuanya. Tak ada lagi yang ia sisakan untuk menemaninya melewati lautan luas yang kejam. Pergi menuju benua lain, tempat seharusnya ia berada.
Kereta kuda berjalan menyusuri jalan padepokan yang berbatu. Kereta singgah beberapa kali untuk menghantarkan wanita itu menyapa dan berpamitan pada Yang Dipertuan Agungkan Padepokan Aryaguna dan bebarapa pendekar utama yang sudah menjaganya selama di padepokan.
Ia mendapat beberapa barang yang tidak dapat dikatakan murah dari seorang yang dipertuan agungkan, tetapi barang-barang itu tetap tak bisa memuaskannya.
Di setiap langkah kuda yang menghantarkannya pergi keluar padepokan tak satupun dapat membuatnya menjumpai orang yang ia cari-cari untuk sekadar memastikan keadaannya dan menyampaikan salam perpisahan terkahir yang mungkin untuk selamanya.
Kereta sampai di gerbang depan padepokan dan satu langkah lagi hingga ia dapat dikatakan meninggalkan padepokan itu, tetapi langkah kudanya tiba-tibanya terhenti karena suatu hal yang menghalangi jalan.
Kereta kuda yang tertutup itu membuat wanita itu tak dapat memastikan apa yang menghadangnya di depan, sehingga wanita itu hanya terduduk dalam lamunan menunggu penjaganya menyampaikan laporan.
Seorang penjaga tingkat biru datang pada wanita itu dan mengatakan bahwa ada seseorang murid pria menghadang di depan. Hanya dengan mendengar sekilas saja, wanita itu tahu siapa yang menghadang.
“Usir saja.”
Wanita itu hanya ingin melihat pria itu dan tidak sampai ingin bertatap muka dengannya karena bila ia bertemu secara langsung, air mata sepanjang malamnya hanya akan terbuang sia-sia.
“Nona, pria itu tak mau pergi. Apakah boleh menggunkan cara kekerasan?”
Wanita itu terdiam dan berpikir. Dia tahu orang yang menghadangnya saat ini memiliki pendirian yang hebat dan karena itu juga ia tertarik pada pria itu. Sebelum memutuskan, wanita itu mengintip sedikit untuk memantapkan hatinya.
“Jangan sampai terluka berat.”
Penjaga yang ia suruh mengusir itu berada di tingkat biru atau berada di tingkat yang setara dengan pendekar utama biasa di padepokan ini. Penjaga itu lebih dari cukup dan terkesan terlalu berlebihan hanya untuk mengusir seorang pendekar tahap putih.
“Apakah tidak satupun cara, Indira?”
Namun, ternyata pria itu tidak menyerah. Penjaga yang wanita itu suruh, mendorong pria itu ke samping dan pria itu jatuh terjelembab hingga terlihat lecet dibebarapa tempat, tetapi pria itu tetap berdiri dan meneriakan hal itu dengan lantangnya.
Penjaga yang merasa kesal karena pria itu tidak mau menyingkir sekali lagi menghempaskan pria itu ke samping. Kali ini penjaga itu mendorong pria itu terlalu kuat, sehingga ada bebarapa luka dalam dan membuat pria itu batuk darah.
“Tolong turun sebentar dan beri aku kesempatan untuk mencoba. Apapun caranya!”
Pria itu masih tak menyerah dan membuat sang penjaga bertambah kesal. Tangan penjaga itu mulai mengepal dan tak lama lagi hingga pukulan yang setara dengan pukulan pendekar tahap oranye itu mendarat di perut pria itu.
Pukulan itu tidak berada di tingkat biru karena penjaga itu tidak menggunkan kekuatan penuhnya, tetapi itu cukup untuk membuat pendekar tahap putih pingsan bebarapa hari dan menadapat luka yang fatal.
Wanita yang sedari tadi mengintip itu sadar akan berbahayanya serangan itu dan memutuskan untuk mengalah dan segera turun dari kereta kudanya.
“Cukup!” teriak wanita itu untuk menghentikan pukulan penjaganya.
Wanita itu berjalan mendekat ke pria yang sudah terlihat kesusahan berdiri itu. Ia mendekat dan membisikan sebuah kalimat, “Datanglah ke Padepokan Mahawira dan kalahkan tunanganku.”
Wanita itu menyerahkan sebuah surat yang sama dengan yang ia berikan pada sahabatnya dan setelah itu ia segera kembali ke kereta kudanya dengan diikuti sang penjaga.
Pria itu melihat sekejap surat yang ia dapatkan kemudian tersenyum kecil. Pria itu berdiri dan berteriak dengan lantang, “Akan aku lakukan, tunggu aku dan akan kukalahkan dia!”
GLOSARIUM NUSANTARA 01
- Meditasi adalah mengumpulkan energi alam yang akan dibuah menjadi Energi Kanuragan dan akan dikumpulkan di Jantung. Selama meditasi gelang sabuk akan dikeluarkan dan akan mengelilingi tubuh. Ini bisa digunakan sebagai prisai juga.
- Murid Awal adalah murid yang baru masuk padepokan dan biasanya berada di tingkat putih.
- Padepokan adalah tempat belajar ilmu bela diri dan tempat untuk menjadi pendekar.
- Pendekar Utama adalah pendekar yang sudah mencapai tahap tertentu dan dijadikan pelatih oleh padepokan.
- Sabuk Kanuragan adalah perwujudan kekuatan kanuragan yang berada di jantung. Warna sabuk Kanuragan tergantung tingkatan kanuragan.
- Senjata Fisik Kanuragan adalah senjata yang akan terbentuk ketika kanuragan mencapai tahap Kuning.
- Yang Dipertuan Agungkan adalah gelar untuk pemilik padepokan.
0 comments