Pendekar Hitam Nusantara - Masa Lalu Lina - Chapter 14


“Ra, kamu beneran mau pergi dari padepokan ini satu minggu lagi?” Lina datang dengan napas terengah-engah ke ruangan Indira di dalem pendekar utama putri.

Indira yang sebelumnya hanya duduk dan melamun disebuah tempat yang biasanya ia gunakan untuk bermeditasi, segera berdiri dan raut mukanya menunjukkan bahwa dia kaget.

Sudah seharian ini Indira tidak bisa fokus untuk bermeditasi karena kejadian semalam dan kini beban pikirannya bertambah lagi. Dia tidak menceritakan dan menahan untuk menyembunyikan ini setidaknya hingga waktu yang belum pasti karena ia tidak mau beban pikirannya bertambah lagi.

Namun, sepertinya usahanya percuma dan kini orang yang paling ia jauhi dari kabar itu malahan yang pertama tahu kabar itu. Indira yakin pasti sahabatnya ini mendengar kabar itu dari satu-satunya murid di padepokan ini yang tahu kabar itu.

“Hm, iya.”

“Kenapa?”

“Tidak lama lagi aku akan naik ke tingkat kuning dan keluarga menyuruhku untuk pulang.”

“Kenapa tidak menunggu hingga Ujian Murid Awal? Memangnya ada urusan yang sangat genting hingga keluargamu sangat terburu-buru?”

“Maaf, aku tidak bisa menceritakan apapun padamu.”

Lina hanya terdiam, raut kecewa tampak dari mukanya. Indira tahu ini akan menyakitkan bagi seorang sahabat untuk terus menerus dibohongi, tetapi mau bagaimana lagi semua rahasia itu memang tidak bisa Indira katakan pada siapapun bahkan pada Yuri.

“Maaf, aku benar-benar tidak bisa mengatakannya. Setidaknya hingga nanti aku menjadi murid menengah, aku baru bisa jujur padamu.”

“Kamu akan kembali lagi?”

“Tentu tidak,”

“Lalu?”

“Padepokan Mahawira, aku akan masuk kesana. Jika kamu bisa lulus ujiannya, kita pasti bisa bertemu di sana.”

“Maksudmu padepokan yang ada di Benua Tengah itu?”

“Iya, padepokan terkuat dan pusat dari semua padepokan di Nusantara ini.”

“Hah? Itu terlalu gila, Kamu tahu, kan, sesulit apa masuk ke sana?”

“Tentu, tapi aku yakin dengan bakatmu, kamu pasti bisa masuk ke sana. Kamu sudah tingkat putih tahap dua, kan?”

“Iya, tapi bukannya kita perlu rekomendasi kerajaan untuk masuk ke sekolah khusus orang-orang berbakat dan penting itu?”

“Kalo cuma itu aku bisa usahakan, sebelum aku pergi akan kuberi kamu surat rekomendasi itu.”

Lina kaget dengan perkataan yang tanpa rasa ragu itu. Dia semakin penasaran dengan identias asli sang sahabatnya itu. Banyak yang ia belum tahu tentang Indira dan mungkin yang ia sesunguhnya tahu tenatang identitas sahabatnya itu hanyalah sekadar nama.

Mereka sudah bersahabat sejak pertama kali mereka masuk ke padepokan ini atau sekitar 4 tahun yang lalu. Mereka bertemu ketika ujian masuk padepokan berlangsung. Waktu itu Indira menyelamatkan Lina yang sedang kesusahan karena menjadi rebutan para pendekar utama.

Ujian masuk padepokan hanyalah mengukur kekuatan kanuragan calon pendekar dengan sebuah alat pengukur yang sudah diberi tulisan manuskrip. Alat itu akan menagkap kekuatan kanuragan sang penyentuh dan mengukur ada sebanyak apa kekuatan kanuragan di dalam tubuh pendekar itu.

Anak-anak yang belum beranjak dari 5 tahun belum bisa meningkatkan kekuatan kanuragan karena anak dibawah 5 tahun pikirannya belum matang, sehingga tidak bisa bermeditasi.

Oleh karena itu, angka yang diukur ketika awal masuk padepokan adalah kekuatan bawakan lahir dan ditambah sedikit kanuragan yang bertambah secara alami tiap tahunnya atau mirip hewan buas kanuragan yang kekuatan kanuragannya hampir setara dengan umurnya.

Terlahir dengan kekuatan kanuragan di atas 3 sudah dapat dianggap berbakat, sehingga ketika angka yang keluar ketika kekuatan kanuragan Lina diukur adalah 7 dan berarti setidaknya ia lahir dengan kekuatan kanuragan sekitar diangka 4 atau lebih, membuat setiap pendekar utama berebut untuk menjadikannya murid pribadi.

Di saat para pendekar utama berdebat dan anak kecil yang masih polos hanya dapat diam karena takut, di saat itulah Indira datang untuk membantunya. Indira menyuruh para pendekar utama itu berhenti berdebat dan membiarkan Lina menjadi murid dari pendekar utama yang sama dengannya.

Entah mengapa saat itu para pendekar utama segera diam dan menuruti apa yang murid baru itu katakan tanpa mencoba melawan sedikitpun. Padahal jika dipertimbangkan soal keuntungan dari memiliki murid berbakat, tentu terasa aneh jika para pendekar utama itu melepaskan Lina begitu saja dan mengalah pada apa yang dikatakan oleh seseorang murid yang baru saja masuk.

Di saat itulah Lina mulai merasa identitas Indira tak biasa dan terkesan sangat berbahaya hingga para pendekar utama tak berani menentang perkatan orang yang membantunya itu. Meskipun Lina takut, ia tetap merasa bersyukur karena terhindar dari masalah itu dan sekaligus mendapat sahabat yang baik sepertinya.

“Oh, iya, tadi aku ketemu Yuri.”

“Dia mencoba masuk ke dalem pendekar putri?”

“Entah, tapi tadi aku bertemu dia di gerbang belakang dan dia titip pesan, katanya dia akan menunggu di Bukit Candrakara kapanpun kamu mau menemuimya, tapi setidaknya sebelum kamu pergi tolong temui dia.”

Kata-kata Lina membuat Indira kembali melamun. Dia melamun bukan karena tidak jelas mendengar ucapan itu dan mencoba mencernanya lebih baik, tetapi Indira merasa syok dan sedih karena kata-kata itu.

Wanita berambut panjang dan mata bulat itu terduduk melamun. Matanya memancarkan perasaan rindu walaupun baru kemarin ia bertemu dengan lelaki itu, tetapi tidak lama kemudian matanya terpejam cukup lama dan kemudian ia buka dengan perasaan ragu.

Hal yang barusan wanita itu lakukan menadakan ada pertentangan di kepalanya. Disatu sisi ia sangat ingin bertemu, tetapi di sisi lain terjadi pertentangan untuk menolak keinginan hati yang sesungguhnya.

“Lina, bisa tolong aku?”

“Tentu, memangnya ada apa?”

“Hm, mungkin saat ini sampaikan saja pada Yuri, aku tidak bisa menemuinya dan katakan padanya untuk menyerah saja.”

“Baiklah, tapi benaran kamu tidak apa-apa begini saja?”

“Ini yang terbaik.”

Hari sudah mulai sore dan mereka melanjutkan percakapan ringan hingga matahari akan terbenam. Lina memang sedikit mengulur waktu agar dapat melihat kesungguhan hati Yuri. Jika tidak samapai satu hari saja dia sudah menyerah dan pergi, mungkin ia tidak perlu menyampaikan pesan apapun padanya.

Namun, harapan Lina untuk tidak menyampaikan pesan apa-apa sirna karena ketika ia sampai di bukit, Yuri ada di sana dan duduk dengan santainya menunggu matahari terbenam.

Lina menyampaikan pesan pada Yuri dan seketika itu pula Yuri menampakkan muka kesal. Matahari baru saja terbenam, tetapi rasa kesal dan kecewa sepanjang hari masih tetap berlanjut.

Namun, Yuri tidak menyerah, ia kembali menitip pesan pada Lina untuk wanita yang Yuri tahu pasti sama kesal dan kecewanya seperti dirinya.

“Tolong sampaikan pesan yang sama seperti tadi pagi aku katakan.”

“Hah, oke-oke, tapi aku saranin kamu nyerah aja.”

“Tidak.”

“Cih.”

Lina pergi meinggalkan Yuri yang mulai bermeditasi di pinggir terbing. Yuri tidak menyerah untuk menunggu Indira walaupun malam terlewat hingga matahari kembali terbenam.

Pesan balasan dari Indira tak pernah sekalipun datang lagi, tetapi Lina tetap datang untuk sekadar memastikan keadaan Yuri yang sudah berhari-hari terduduk lesu menunggu kedatangan sang wanita pujaan hatinya itu.

Tanpa makan ataupun sekadar menyapa gurunya. Mungkin bila hanya tak makan itu tak akan apa-apa karena Yuri adalah seorang pendekar yang hanya dengan bermeditasi dapat membuat tubuhnya penuh dengan energi, tetapi bila Yuri terus-terusan tak memberi kabar gurunya bisa-bisa ia di usir dari padepokan.

Namun, sepertinya Yuri tak perlu cemas, setidaknya hingga satu minggu ini karena hingga saat ini tak ada satupun perwakilan dari gurunya itu yang memangilnya, entah karena Tetua Jayendra merasa iba padanya atau ia sudah tak peduli lagi pada satu-satunya muridnya itu.

“Kau memang gila, ya, Yuri.”



GLOSARIUM NUSANTARA 01
  1. Meditasi adalah mengumpulkan energi alam yang akan dibuah menjadi Energi Kanuragan dan akan dikumpulkan di Jantung. Selama meditasi gelang sabuk akan dikeluarkan dan akan mengelilingi tubuh. Ini bisa digunakan sebagai prisai juga.
  2. Murid Awal adalah murid yang baru masuk padepokan dan biasanya berada di tingkat putih.
  3. Padepokan adalah tempat belajar ilmu bela diri dan tempat untuk menjadi pendekar.
  4. Pendekar Utama adalah pendekar yang sudah mencapai tahap tertentu dan dijadikan pelatih oleh padepokan.
  5. Sabuk Kanuragan adalah perwujudan kekuatan kanuragan yang berada di jantung. Warna sabuk Kanuragan tergantung tingkatan kanuragan.
  6. Senjata Fisik Kanuragan adalah senjata yang akan terbentuk ketika kanuragan mencapai tahap Kuning.
  7. Yang Dipertuan Agungkan adalah gelar untuk pemilik padepokan.

You Might Also Like

0 comments