Pendekar Hitam Nusantara - Mencoba Peruntungan - Chapter 13


Hembusan udara yang segar dari pepohonan yang hijau dan alami membuat hampir sebagian besar pendekar menikmati pagi hari dengan tenang dan damai. Namun, tidak untuk sebagian orang lainnya termasuk Yuri.

Ayam baru saja berkokok dan tanda latihan pagi baru saja berbunyi, tetapi saat ini Yuri sudah berlari dengan terengah-engah. Dia lari dengan sekuat tenaganya untuk menuju suatu tempat.

Setelah melewati Pondok Pustaka, Pondok Meditasi Agung, dan juga gerbang belakang, Yuri akhirnya sampai di tujuannya. Dalem Pendekar Putri, tempat Indira tinggal dan menjadi tempat terlarang untuk para pria.

Yuri menghentikan langkahnya ketika ia sampai di pekarangan yang mengitari dalem penedekar putri. Tempat ini tidak terlalu berbeda dengan dalem pendekar putra, yang membedakan hanyalah ada banyak bunga di sini dan pohon-pohon rindang terasa lebih sedikit.

Di sekeliling taman atau pekarangan yang menghubungkan daerah dalem pendekar putri dengan jalan utama padepokan dibatasi oleh pagar yang tidak terlalu tinggi, tetapi ada sebuah pelindung yang menghalangi orang-orang tidak diinginkan untuk masuk ke dalam.

Setiap gedung di padepokan ini memang memiliki sebuah pelindung yang dibuat oleh yang dipertuan agungkan pertama Padepokan Aryaguna ini. Pelindung yang digunakan untuk dalem pendekar memang tidak terlalu kuat dan setidaknya hanya dapat menahan serangan pendekar tahap hijau ke bawah, tetapi itu sudah cukup untuk sekadar mencegah murid padepokan membuat masalah. Namun, bukan berarti padepokan meremehkan keamanan murid-murid karena ada sebuah pelindung yang lebih besar mengitari padepokan ini.

Pelindung itu dikhususkan untuk mencegah serangan pendekar tahap merah kebawah dan itu sudah cukup untuk melindungi padepokan dari serangan padepokan lain atau hewan liar yang ingin masuk ke padepokan.

Yuri saat ini masih memutar otak agar dapat masuk ke pelindung itu. Dia mencoba memegang lapisan yang terlihat tipis itu untuk mencoba peruntungannya. Lapisan tipis itu adalah pelindung yang dimaksud. Pelindung itu memang tipis, tetapi sangat efektif untuk mencegah pendekar tahap putih sepertinya masuk secara paksa.

Yuri mulai memukul pelindung itu berkali-kali, tetapi tetap tidak berguna. Untung saja jam latihan fisik pagi sudah dimulai dan jalanan disekiatar Yuri sudah sepi karena pondok pendekar atau tempat latihan berejarak sangat jauh dari tempatnya saat ini berdiri. Jika tidak, mungkin dia sudah ditangkap oleh pendekar yang lewat karena dikira melakukan serangan terhadap dalem pendekar putri.

Yuri mulai mengeluarkan sabuk kanuragannya dan menyerang pelindung itu dengan sekuat tenaganya, tetapi sayangnya apa yang dia lakukan itu tetap percuma dan dia malah terpental balik karena serangan kanuragan yang ia keluarkan dipantulkan balik dengan kekuatan yang sedikit lebih kuat atau kekuatan yang setara dengan serangan pendekar tahap kuning.

“Hei, apa yang kamu lakukan!” teriak seseorang dari arah pintu masuk pekarangan dalem pendekar putri dan orang itu berlari mendekat ke arahnya.

Cahaya yang dikeluarkan dari serangan Yuri dan serangan balik dari pelindung itu pasti membuat orang yang bertugas menjaga tempat ini menyadari adanya serangan. Yuri yang reflek karena kaget, segera berlari melawan arah kedatangan orang itu.

Yuri sudah mengeluarkan sabuk kanuragannya, sehingga kecepatan larinya tidak bisa dikalahkan oleh penjaga itu. Setelah Yuri berbelok pada tikungan satu arah dan kini dia berada di depan gerabang belakang padepokan, penjaga itu tidak terlihat lagi dan Yuri mulai menarik kembali sabuk kanuragannya.

Gerbang belakang ini terhubung dengan jalur menuju Bukit Candrakara dan membuat Yuri merasa cemas dan takut. Cemas tidak dapat bertemu dengan wanita itu dan takut hal ini akan terjadi selamanya.

Yuri kembali berpikir keras untuk dapat bertemu dengan Indira. Beberapa rencana muncul di kepalanya seperti berteriak sekeras mungkin hingga Indira keluar, menyandra pengawalnya yang pasti berada di luar dalem pendekar utama putri karena mereka semua laki-laki, atau meminta bantuan Tetua Jayendra.

Yuri tertawa dalam hati ketika memikirkan semua skenario itu. Dia sadar semua rencana itu gila dan terlalu berisiko, tetapi berkat itu perasaan cemas Yuri mulai sedikit terobati. Kini ia dapat berpikir lebih baik dan mencoba mencari jalan yang mungkin.

Hari mulai semakin panas dan jalan padepokan mulai ramai karena latihan pagi sudah berakhir dan kini waktunya
istirahat siang. Yuri masih belum menemukan cara yang mungkin untuk dia lakukan untuk masuk ke tempat itu dan kini dia sudah hampir terduduk di atap gerbang padepokan selama seharian penuh.

“Hei, apa yang kamu lakukan di atas situ?” teriak seseorang wanita dari dalam padepokan.

Yuri melihat ke arah suara perempuan itu dan mukanya langsung berubah dari yang sebelumnya murung kini mukanya menampakan senyum yang lebar. Bukan karena orang yang datang itu adalah orang yang ia cari, tetapi orang yang datang itu bisa dibilang satu-satunya harapan Yuri saat ini.

Orang itu adalah wanita yang sering bersama Indira dan Indira pun menganggap wanita itu sahabatnya. Yuri segera melompat turun dan memegang kedua bahu wanita itu.

“Tolong aku!”

“Kya...,” wajah wanita itu memerah dan segera mundur beberapa langkah, kedua tangannya ia silangkan memegang pundak.

“Maaf-maaf.”

“Ada apa, sih?”

“Bantu aku bertemu Indira!”

“Memangnya ada apa? Bukannya kalian sudah sangat dekat? Apa kalian bertengkar?”

“Hah?”

“Kenapa ‘hah’?”

“Kamu belum tahu Indira akan pergi dari padepokan satu minggu lagi?”

“Hah?”

“Malah ‘hah’. Bukannya kamu sahabatnya, masa belum diberi tahu.”

“Cih, meskipun kami sahabatan tapi kami tidak sedekat yang kamu bayangkan. Indira itu terlalu misterius dan aku sedikit kesulitan berbicara dengannya akhir-akhir ini karena kamu!” mata wanita itu memperlihatkan mata tidak senang dan tangannya sudah kembali turun.

“Jadi, bisa tidak bantu aku?”

“Setelah mendengar dia akan pergi aku jadi ingin segera bertemu dengannya. Kalo begitu ketika aku bertemu akan kusampaikan pesanmu.”

“Kalo begitu, bilang saja aku selalu menunggumu di Bukit Candrakara kapanpun kamu mau menemuiku, tapi setidaknya sebelum kamu pergi tolong temui aku.”

Wanita itu masih terdiam menunggu Yuri menitipkan sesuatu, tetapi setelah beberapa saat menunggu, Yuri hanya diam dan bingung.

“Hanya itu? Tidak ada yang mau dititipkan?”

“Hm, tidak ada sepertinya.”

“Hah, dasar cowok. Kalo begitu, aku pergi dulu!”

“Ah, iya, ngomong-ngomong namamu siapa?” Yuri tersenyum karena malu.

“Lina! Dasar kau ini, sudah berapa kali kita bertemu masa belum tahu namaku.”

“Maaf.”



GLOSARIUM NUSANTARA 01
  1. Meditasi adalah mengumpulkan energi alam yang akan dibuah menjadi Energi Kanuragan dan akan dikumpulkan di Jantung. Selama meditasi gelang sabuk akan dikeluarkan dan akan mengelilingi tubuh. Ini bisa digunakan sebagai prisai juga.
  2. Murid Awal adalah murid yang baru masuk padepokan dan biasanya berada di tingkat putih.
  3. Padepokan adalah tempat belajar ilmu bela diri dan tempat untuk menjadi pendekar.
  4. Pendekar****Utama adalah pendekar yang sudah mencapai tahap tertentu dan dijadikan pelatih oleh padepokan.
  5. Sabuk Kanuragan adalah perwujudan kekuatan kanuragan yang berada di jantung. Warna sabuk Kanuragan tergantung tingkatan kanuragan.
  6. Senjata Fisik Kanuragan adalah senjata yang akan terbentuk ketika kanuragan mencapai tahap Kuning.
  7. Yang Dipertuan Agungkan adalah gelar untuk pemilik padepokan.

You Might Also Like

0 comments