Pendekar Hitam Nusantara - Keraguan dan Hasrat - Chapter 12
Setelah ada sedikit cadangan kekuatan kanuragan di jantungnya, Yuri memutuskan untuk berbicara dengan Indira yang sedari tadi masih ia rasakan hawa keberadaannya.
“Huft...”
Sabuk kanuragan semakin mengecil dan ketika sudah berukuran segenggaman tangan, sabuk kanuragan berwarna putih itu masuk menembus kulit yang menutupi jantung dan akhirnya hilang tanpa jejak.
Yuri mulai membuka mata dan menyadari Tetua Jayendra sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Yuri memang tidak dapat merasakan keberadaan Tetua Jayendra ketika bermeditasi tadi dan itu menandakan bahwa tingkatan Tetua Jayendra terlalu tinggi untuk ia lawan.
“Ngomong-ngomong, siapa orang yang bertarung denganku semalam? Kenapa mereka memangilmu nona?”
“Aku benar-benar minta maaf karena kejadian semalam. Sebenarnya mereka adalah bagian dari orang-orang yang seharusnya menjagaku dan mereka baru dikirim oleh keluargaku beberapa hari yang lalu.”
“Hah, pantas saja bela diri mereka tampak berbeda.”
“Mereka benar-benar bodoh hingga mencari masalah di padepokan kerajaan lain.”
“Yah, mereka hanya mencoba melindungi nonanya.”
Yuri tahu Indira berasal dari kerajaan dan juga benua lain karena dari logat dan gaya berpakiannya yang tampak berbeda dari orang-orang di Kerajaan Sunda ini. Yuri ingin mengetahui asal dari wanita itu, tetapi hal itu dapat dianggap sangat tidak sopan karena menanyakan asal dari seseorang pendekar sangat tabu.
Banyak pendekar kuat yang merahasiakan keluarganya untuk kebaikan keluarga karena bila dia mencari gara-gara di suatu tempat, keluarganya tidak akan terancam. Hal itu menjadi rahasia umum di Nusantara ini dan semua menghormati hukum tak tertulis itu.
Yuri masih memperhatikan Indira yang setelah pembahasan tentang orang-orang yang dikirim oleh keluargannya membuat ekspresinya berubah menjadi seperti orang bimbang dan sedih. Wanita itu tampak sedang berpikir, tetapi enggan untuk mengatakan sesuatu.
“Sedang memikirkan apa?”
“Bukan apa-apa.”
“Tidak mau cerita?”
“Bukan, hanya saja,” Indira memalingkan wajahnya dan kini Yuri hanya dapat memandang rambut Yuri yang panjang dan tanpa ikatan.
“Bila tak mau bicara tak apa-apa.”
“Maaf.”
Hanya kata maaf yang membuat suasana kini berubah menjadi sunyi dan terasa sangat menyakitkan. Perasaan sunyi yang seharunya menjadi idaman para pendekar, kini terasa sangat tidak diinginkan oleh Yuri maupun Indira.
Indira berjalan lurus dan kemudian keluar dari kamar Yuri. Yuri yang punya perasaan tidak enak memutuskan bangkit dari kasurnya dan segera mengikuti langkah Indira yang perlahan dan penuh ragu mengarah pergi meninggalkan Dalem Pendekar Utama Tetua Jayendra.
“Hiks... Hiks....”
Ketika mencapai batas pekarang dan satu langkah lagi hingga wanita itu dapat dianggap keluar dari area dalem pendekar utama, langkah wanita itu terhenti dan pelan tapi pasti Yuri mulai mendengar suara wanita yang menangis, tetapi sangat rintih dan seperti ditahan.
Yuri tahu dan sangat yakin suara yang menyakitkan itu berasala dari wanita yang hanya berjarak beberapa langkah darinya itu. Yuri tahu ada yang tidak beres dan semua ini terasa seperti sebuah perpisahan yang tidak pernah diharapkan.
Dengan perlahan Yuri mulai mendekat dan ketika ia hanya berjarak beberapa jengkal lagi dengan wanit itu, Yuri memeluk wanita itu dibagian pinggang dan kini tubuh mereka sangat dekat hingga hampir dapat disebut menempel. Suara tangisan Indira mulai semakin berat dan jelas.
“Apakah ini akhir?”
“Mungkin iya, mungkin juga tidak.”
“Lalu, kamu memilih mengalah pada takdir?”
“Tidak mungkin melawan, ini keputusan keluargaku. Waktuku ditempat ini paling lama hanya tinggal satu minggu.”
Yuri hanya diam mendengar semua itu. Perasaan sedih dan marah mengalir deras bagaikan air terjun yang tak ada alasan merasa takut untuk jatuh menghantam apapun yang ada dibawahnya.
Menangis hal yang tabu untuk pria. Menangis hanyalah tanda bahwa pria sudah kalah dan merasa tidak ada lagi jalan lainnya. Yuri memendam semuanya dan mencoba menengkan pikirannya.
Tangan Indira ia letakan di atas tangan Yuri dan beberapa saat kemudian tangan itu ia tarik untuk melepas pelukan pria itu. Indira mendorong pria itu ke belakang, kemudian menghapus air matanya dan berlari meninggalkan pria itu sendirian.
Perasaan kalah dan tak menerima terus-terusan Yuri rasakan hingga akhirnya ia mengalah dan memilih untuk pergi ke dalam dan mencoba menenangkan pikiran agar mendapatkan pilihan yang tepat.
Yuri masuk ke dalam dan mencoba bermeditasi. Menarik napas dan memfokuskan pikiran untuk membuat kekuatan kanuragan berkumpul di jantung adalah hal yang riskan. Pikiran harus kosong karena bila tidak pembuluh darah akan terganggu dan dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah atau mudahnya disebut luka dalam.
Jantung yang digunakan untuk menyimpan kanurgan secara cepat bila pikiran tidak fokus dapat membuat kekuatan kanurgan itu pecah dan mengalir secara tidak karuan di seluruh tubuh. Hal itu lebih berbahaya dari pada luka dalam biasa karena bila hal itu terjadi yang menerima dampak bukan hanya pembuluh darah, tetapi hingga organ tubuh penting lainnya seperti ginjal dan jantung itu sendiri.
Dampak yang sangat mengerikan itu sangat dipahami oleh Tetua Jayendra, sehingga ketika melihat muridnya yang sedang berusaha mati-matian untuk fokus, tetapi terus-menerus gagal, segera ia hentikan dan memberikan
teguran keras pada muridnya itu.
“Berhenti! Apa yang kamu lakukan? Mau berhenti menjadi pendekar?”
Yuri yang sadar teguran itu ditujukan untuknya, segera menghentikan kegiatan yang sudah hampir satu jam ini ia lakukan berulang-ulang, tetapi selalu gagal itu.
Pikiran Yuri tak bisa kosong karena terus-menerus merasa menyesal karena tidak menghentikan Indira. Ia merasa kalah dan bersalah ketika membiarkan wanita itu pergi tanpa mengatakan sesuatu yang selayaknya seorang pria katakan ketika melihat wanita bersedih dan terlebih lagi alasan wanita itu bersedih dikarenakan olehnya.
“Ada apa denganmu, kenapa kamu tidak bisa fokus?”
Yuri diam sejenak dan memikrikan hal apa yang seharusnya ia lakukan saat ini.
“Guru, apa aku boleh menculik orang?”
“Apa?! Kamu sudah gila, Yuri? Apa serangan itu membuat otakmu sakit?”
“Hahaha, aku hanya bercanda, Guru.”
“Hah, tapi aku ingatkan kamu, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, tapi jangan sampai melanggar batas. Seseorang pendekar memang memiliki banyak kemudahan dan kebebasan, tetapi bila seseorang pendekar itu melanggar sebuah hukum di sebuah kerajaan, dia akan tetap diproses dan hukumannya tidak main-main.”
“Bukannya kita bisa lari?”
“Jika kamu merasa kamu tidak terkalahkan maka coba kau selami sebuah samudra dan cari tempat paling terdalamnya. Kamu tidak akan pernah tahu seberapa dalam samudra itu karena disana sangat dalam dan penuh misteri yang bahkan ahli terkuat di kerajaan manapun tidak memahaminya.”
“Lalu apa maksudnya itu?”
“Intinya, carilah jalan terbaik, jangan mencoba melewati batasan, dan yang paling penting pikrilah terlebih dahulu dengan mantap sebelum kamu menyesalinya.”
Yuri tertunduk mendengar perkataan gurunya. Memutuskan sebelum menyesal, Yuri tahu hal itu yang ingin gurunya katakan, tetapi hal itu yang membuatnya ragu.
Yuri kembali mengingat kenangannya selama ini bersama Indira. Pertemuan yang memalukan, tetapi sangat berkesan. Matahari yang terbenam menemani kebersamaan mereka di bukit yang memiliki arti matahari itu. Semua kenangan itu membuat Yuri akhirnya mendapat satu keputusan.
Dia akan mencoba satu kali lagi. Dia tidak mau menyesali bila membiarkan Indira pergi begitu saja. Dia tak mau terus diam dan berakhir kecewa. Dia akan mencoba walapun nyawa taruhannya.
GLOSARIUM NUSANTARA 01
- Meditasi adalah mengumpulkan energi alam yang akan dibuah menjadi Energi Kanuragan dan akan dikumpulkan di Jantung. Selama meditasi gelang sabuk akan dikeluarkan dan akan mengelilingi tubuh. Ini bisa digunakan sebagai prisai juga.
- Murid Awal adalah murid yang baru masuk padepokan dan biasanya berada di tingkat putih.
- Padepokan adalah tempat belajar ilmu bela diri dan tempat untuk menjadi pendekar.
- Pendekar Utama adalah pendekar yang sudah mencapai tahap tertentu dan dijadikan pelatih oleh padepokan.
- Sabuk Kanuragan adalah perwujudan kekuatan kanuragan yang berada di jantung. Warna sabuk Kanuragan tergantung tingkatan kanuragan.
- Senjata Fisik Kanuragan adalah senjata yang akan terbentuk ketika kanuragan mencapai tahap Kuning.
- Yang Dipertuan Agungkan adalah gelar untuk pemilik padepokan.
0 comments