Pendekar Hitam Nusantara - Penyesalan - Chapter 3
“Huft... huft...”
Yuri mencoba mengatur pernapasannya agar dapat menyerap energi alam yang kemudian akan dimasukan ke jantung untuk diubah menjadi kekuatan kanuragan. Proses ini adalah salah satu langkah dalam meditasi dan sudah tertulis dalam buku-buku kuno yang sudah ada sejak zaman dulu.
Energi alam yang terbawa udara masuk dari hidung kemudian disalurkan oleh kerongkongan menuju jantung. Di jantung semua energi alam akan disimpan dan bila ingin digunakan, energi alam tersebut akan terpecah dan menghasilkan fenomena yang disebut ‘Sabuk Kanuragan’.
Sebagian besar energi yang terpecah akan dikeluarkan tubuh menjadi sabuk kanuragan karena kekuatan energi kanuragan yang diperlukan oleh tubuh sudah menyebar ke seluruh pembuluh darah sehingga tidak ada lagi ruang tersisa untuk menyebarkannya.
Para pendekar akan terus-terusan menyimpan energi kanuragan hingga batasannya karena dengan terus menerusnya kekuatan kanuragan penuh, maka batas dari penyimpanan akan terus bertambah dan hal itu yang membuat seseorang pendekar naik ke tingkat yang lebih tinggi.
Metode yang sangat klasik, tetapi tidak ada metode lain yang dapat digunakan selain itu. Menyatukan raga dan
pikiran untuk mencapai ketenangan sejati dan akhirnya menyerap energi alam yang terbawa oleh udara. Sebuah metode yang mudah bila didengar, tetapi akan sulit dipraktikkan jika pikiran tidak kosong.
Pikiran tidak kosong adalah hal paling mengganggu dan paling fatal dalam proses meditasi. Hal ini juga yang saat ini sedang menjadi masalah untuk Yuri. Ia kesulitan menyerap energi alam yang berada di sekitarnya dan hanya terus-terusan menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya. Lagi, lagi, dan lagi tak ada bedanya dengan proses bernapas biasa.
Waktu terus berlalu dan Yuri masih mengulang hal yang sama. Ia tidak bisa mengosongkan pikiran karena terpikirkan oleh suatu hal. Satu masalah yang membuatnya tidak jenak sejak kemarin yaitu pikiran tentang kesalahannya pada wanita yang menolongnya waktu itu.
Yuri masih terpikirkan akan perkataannya yang terlalu kasar pada Indira. Ia memang masih yakin bahwa dilindungi seorang perempuan adalah hal yang salah, tetapi tetap saja ia merasa bersalah karena terlalu tidak sopan pada orang yang berniat baik padanya.
Oleh karena itu, Yuri saat ini memlih untuk mengakhiri meditasinya. Toh, dia juga tidak mendapatkan hasil
apa-apa sejak siang hingga sore hari ini.
Ia berjalan menyusuri tempat kemarin ia dipukuli dan berharap berpapasan dengan wanita itu. Namun, harapannya pupus karena sudah berkali-kali ia mondar-mandir di depan gerbang belakang padepokan, tetapi tidak ada satupun tanda-tanda bahwa wanita itu akan lewat.
Setelah lelah menunggu, ia memutuskan untuk pergi bertanya pada orang-orang di sekitar Pendopo Pendekar atau tempat untuk latihan fisik para pendekar dan calon pendekar seperti dirinya.
Memang seharusnya saat ini sudah masuk jam sore dan pelajaran saat ini adalah latihan fisik. Namun, sesampainya disana ia tidak dapat menemukan sosok wanita itu diantara barisan orang-orang yang sedang memeragakan gerak dasar pencak silat.
Dimana orang itu? Apa mungkin dia bolos latihan? Pertanyaan timbul dari dalam benak Yuri dan membuat Yuri sedikit frustasi karena tidak menemukan orang yang ia cari.
Memang saat ini dia sama dengan orang itu yaitu tidak mengikuti latihan fisik, tetapi ini bukanlah kebiasannya. Yuri biasanya tak pernah bolos dari latihan pagi maupun sore. Hanya saja tidak fokus membuatnya berpikir akan berbahaya baginya jika memaksakan latihan.
Padepokan memang tidak terlalu memaksa setiap calon pendekar untuk latihan. Hanya saja bila calon pendekar tidak latihan, mereka akan kesusahan diujian murid awal karena pada ujian tahap dua para calon pendekar akan disuruh memeragakan gerakan dasar pencaksilat dengan baik dan benar.
Setelah lama ia melamun sambil sedikit menghadap pada orang-orang yang sedang berlatih, tiba-tiba ada seseorang yang mendorongnya dari belakang dengan kekutan yang tidak seperti ingin membuat seseorang terjatuh.
Pikiran yang pertama muncul pada benak Yuri adalah bahwa orang yang barusan mendorongnya mungkin orang yang biasa merundungnya. Namun, kali ini tebakannya salah karena ternyata orang yang barusan mendorongnya adalah seseorang wanita yang kemarin berjalan bersama orang yang saat ini ia cari.
“Ngapa enggak latihan? Udah nyerah sebelum ujian?”
“Bukan, aku lagi nyari seseorang. Ah iya sebelumnya aku mau minta maaf juga sama kamu tentang yang kemarin.”
“Hm, sadar juga, ya, kamu!”
“Kebawa emosi kemarin aku. Oh iya, orang yang kemarin sama kamu itu dimana?”
“Indira? Biasanya dia di Bukit Candrakra jam segini.”
“Oh, bukit belakang padepokan?”
“Iya, mau nemui dia?”
“Iya. Kalo gitu aku duluan, ya.”
“Hati-hati, orang lemah kayak kamu jangan lama-lama keluar padepokan.”
“Hahaha,” tawa Yuri mengiringi langkahnya pergi menuju Bukit Candrakara.
“Dasar orang aneh,” ucap wanita yang barusan ditemui Yuri.
“Tapi cepet juga dia sehatnya, ya,” tambah wanita itu dengan perasaan heran.
Bukit Candrakara berada di belakang padepokan dan tempat itu harus ditempuh dengan melaui hutan yang cukup rindang. Memang agak berbahaya bila keluar terlalu lama dari padepokan karena Padepokan Aryaguna ini berada jauh dari desa terdekat.
Padepokan ini dibangun di pinggir bukit yang disekelilingya masih hutan lebat. Dulu seorang ‘Tetua yang diagungkan pertama Padepokan Aryaguna ini membangun padepokan dengan bantuan banyak pendekar tahap merah karena padepokan ini berafilasi dengan Kerajaan Sunda.
Walalupun Kerajaan Sunda tidak sebesar kerajaan lain di Benua Selatan ini, tetapi karena Kerajaan ini pernah kalah berperang dengan Kerajaan Sriwijaya yang berada di Benua Timur. Sehingga, membuat Kerajaan Sunda menjadi kerajaan bawahan Kerajaan Sriwijaya dan banyak pendekar-pendekar kuat Kerajaan Sriwijaya yang dipindahkan ke Kerajaan Sunda untuk menstabilkan wilayah serta bertahan bila ada kerajaan lain yang menyerang.
Ketika perang berlangsung, banyak orang yang takut dengan perang memutuskan pindah ke Kerajaan Medang dan / atau Kerajaan Majapahit karena kedua kerajaan itu adalah kerajaan terkuat di Benua Selatan saat ini. Hal itu juga yang menjadi penyebab mengapa orang-orang di Kerajaan Sunda sangat sensitif dengan orang asing yang pindah kekerajaan mereka.
0 comments