Pendekar Hitam Nusantara - Permintaan Maaf - Chapter 4
Yuri sampai di puncak Bukit Candrakara. Tempat ini memang seperti yang orang-orang katakan yaitu penuh dengan energi alam dimana-mana. Namun, karena tempat ini berada di luar padepokan sehingga mambuat para calon pendekar takut untuk bermeditasi di sini karena tidak adanya penjaga.
Bermeditasi di sini memang berbahaya, tetapi entah mengapa ada seseorang yang dengan santainya bermeditasi dan tepat dipinggir tebing pula. Orang itu adalah Indira, seorang calon pendekar terbaik setidaknya untuk saat ini.
Yuri mendekat dengan perlahan agar wanita itu tidak mengira ia mendapat serangan. Beberapa langkah lagi sampai dia mencapai wanita itu dan tiba-tiba Indira langsung membuka matanya dan segera mengambil pedang yang ada di depannya.
Mata Indira memang sebelumnya tertutup dan terlebih lagi posisi badannya membelakangi Yuri, tetapi setiap pendekar yang sudah mencapai tingkat putih tahap kedua akan dengan mudah merasakan kehadiran seseorang yang bersembunyi beberapa langkah darinya. Semakin tinggi tingkatan seseorang maka semakin jauh ia dapat merasakan kehadiran seseorang.
“Tenang-tenang, aku tidak punya niat jahat,” ucap Yuri sambil mengangkat tangganya.
Sang wanita hanya melihati Yuri untuk beberapa saat dan kemudian ia tersadar bahwa orang yang datang itu adalah orang yang ia tolong kemarin. Setelah merasa yakin tidak ada permusuhan, wanita itu kembali menyarungkan pedangnya dan mengalihkan kembali pandangnya ke depan.
“Ah, kamu pria yang kemarin.”
“Hahaha iya, maaf menggangumu.”
“Lalu, ada apa mencariku?”
Pandangan Indira tidak tertuju pada Yuri, tetapi ia melihat ke arah hutan yang berada di bawah tebing dan sekaligus arah barat sehingga dapat terlihat dengan jelas matahari yang tidak lama lagi akan tenggelam. Pandangan serius dari Indira dan seperti tidak ingin diganggu membuat Yuri melihat ke arah yang sama. Ia terdiam sebentar dan melihat matahari yang mungkin tak lama lagi akan terbenam.
“Sebenarnya aku datang kemari karena ingin minta maaf untuk yang kemarin. Aku terlalu keterlaluan kemarin karena tidak sopan pada penolongku.”
“Hm, sepertinya meskipun aku tak datang kamu tidak akan kenapa-napa.”
Mendengar perkataan wanita itu yang seperti tanpa rasa ragu membuat Yuri kaget dan gugup. Indira sepertinya sudah tahu hal yang selama ini Yuri sembunyikan dari semua orang di padepokan ini.
“Hahaha, ma.. mana mungkin,” ucap Yuri dengan sedikit ragu dan gugup.
“Hah, terserah padamu, tapi aku ingatkan, hati-hati. Bila ketahuan para Pendekar Utama mungkin kamu akan dalam bahaya karena sudah membohongi mereka.”
Yuri sadar saat ini tidak mungkin untuk berbohong lagi. Berbohong lebih jauh hanya akan membuatnya bingung untuk membuat alasan baru lainnya. Wanita yang saat ini berada di depannya bukanlah wanita biasa. Dia terlihat lebih terpelajar daripada pendekar-pendekar awal lainnya.
“Aku akan berhati-hati.”
Setelah Yuri mengucapkan hal itu dengan nada pasrah, wanita itu segera membalikkan badannya dan tersenyum pada Yuri.
“Sepertinya kita belum berkenalan, aku Indira. Murid awal.”
Yuri hanya terdiam mendengar ajakan berkenalan yang mendadak itu. Dia hanya melihati muka wanita itu dengan perasaan yang berdebar-debar. Saat ini yang dia pikirkan adalah senyum wanita itu yang bagaikan sebuah kekuatan ilusi yang sangat indah dan kuat.
Senyumnya bagaikan kekuatan ilusi walaupun ia sendiri pun belum pernah melihatnya. Baladiri yang berasal dari Benua Utara itu belum pernah sekali pun ia lihat dan ia rasakan, tetapi saat ini ia merasa mungkin kekuatan itu tak berbeda jauh dengan apa yang keluar dari senyum manis itu. Senyum yang dapat membuat orang hilang kendali.
“Hei, ada apa? Mau ngerahasian namamu juga?” wanita itu sedikit tertawa.
“Ah enggak lah. Aku Yuri, murid awal sepertimu. Sebenernya tanapa kamu kasih tahu namamu pun aku sudah tahu.”
“Kok bisa?”
“Kamukan terkenal di padepokan ini, hahaha.”
“Eh,” Indira tersipu malu mendengara tentang dirinya.
“Mungkin kita akan menjadi lawan di ujian murid awal tahun depan.”
“Hm, mungkin,” ucapan yang sedikit ragu keluar dari mulut wanita itu untuk pertama kalinya.
Matahari mulai menghilang dari pradaban. Sinarnya berubah warna menjadi oranye yang bagaikan menandakan sebuah kelahiran baru. Mirip ketika seorang pendekar masuk ke tingkat oranye karena ketika masuk ke tingkat itu, tubuh dapat membentuk sebuah ‘Senjata Fisik Kanuragan’ dan hal itu hanya terjadi satu kali sepanjang hidup pendekar.
Waktu yang sangat kritis bagi tiap pendekar. Sesuatu yang baru akan muncul dan hal itulah yang akan menentukan nasib setiap pendekar kedepannya. Dari semua 10 jenis senjata fisik kanuragan memanglah kuat dan hampir setara secara keseluruhan, hanya saja diantara tiap-tiap yang setara tetap saja akan ada yang lebih kuat dan ada yang lebih lemah walaupun hanya sedikit perbedannya.
Namun, yang lebih mempengaruhi dari kuat tidaknya seseorang nanti ketika mendapatkan senjata fisik kanuragan adalah kecocokan diri dengan senjata. Misal saja ketika sesorang yang lebih suka mengandalkan kecepatan dalam tiap serangannya, tetapi dia malahan mendapat senjata fisik bertipe serangan kuat. Tentu saja itu akan menjadi masalah karena pendekar itu harus berlatih menguatkan fisik terlebih dahulu.
Untungnya kesempatan seseorang pendear mendapat senjata fisik kanuragan yang tidak sesuai dengannya sangatlah kecil dan hampir jarang terjadi karena ketika ‘Upacara Kebangkitan Senjata Fisik Kanuragan’ dilakukan maka secara otomatis senjata yang kita dapat adalah senjata yang sesuai dengan keadaan tubuh kita saat itu.
Biasanya para pendekar akan menjaga tubuh sebaik dan sefit mungkin ketika upacara dilaksanakan karena misal saat itu seseorang yang mengandalkan serangan sedang sakit sehingga kekuatan tubuhnya menurun drastis hingga dibawah dari kelincahnnya maka ia bisa-bisa mendapat senjata yang bertipe kelincahan. Hal itu lah yang membuat kesalahan terkadang terjadi sehingga membuat masa depan sang pendekar sedikit kacau.
Matahari sudah tak tampak oleh mata lagi. Kini yang tersisa hanyalah kegelapan atau akhir dari sebuah cahaya yang terang. Akhir dari hari yang sangat panjang dan melelahkan. Semua perjalanan akan berakhir dengan sebuah kegelapan begitupula dengan hidup ini.
Semua pendekar dimulai dari putih atau awal melawati tingkat kuning atau harapan baru dan diakhiri dengan tingkat hitam atau akhir dari perjuangan panjang para pendekar. Hingga saat ini tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada para pendekar ketika mereka mencapai tahap hitam. Setidaknya untuk semua orang biasa dan pendekar di Nusantara ini.
Semua rahasia tentang tingkat hitam tersembunyi dengan rapat karena ketika seseorang pendekar mencapai tingkat hitam, ia akan pergi entah kemana. Semua orang hanya menyebut mereka pergi ke Nirwana.
“Indah bukan? Itulah mengapa aku menyukai tempat ini,” ucap sang wanita dengan suara yang terasa sangat ganjil.
Suara itu bagaikan seseorang yang merindukan sesuatu. Rindu pada sesuatu yang jauh entah di mana keberadannya. Suara yang penuh pilu, tetapi entah mengapa terasa hangat didengar.
Wanita itu saat ini sedang merindukan kampung halamannya. Hal itu dapat terlihat dari pandangnnya yang terasa penuh dengan kenangan. Pandangannya masih lurus menuju ke arah matahari telah terbenam, tetapi pikirannya tak berada di sini untuk sekejap.
Jika dilihat dari penampilannya yang bisa dibilang berbeda dengan orang-orang dari Kerajaan Sunda ini. Dapat ditebak bahwa dia bukan berasal dari kerajaan ini. Gaya berpakaiannya juga cukup berbeda dengan wanita-wanita
di padepokan ini.
Indira menggunakan pakaian yang biasa orang Benua Timur pakai dan hal ini menjadi jawaban mengapa ia terlihat cukup berbeda dengan orang-orang lain. Badan langsing dan tinggi serta memiliki rambut hitam pekat terurai ke belakang tanpa ada tali pengikat. Membuatnya tampak seperti seseorang penedekar dari Kerajaan Sunda yang bernama Dyah Pitaloka.
Seorang pendekar wanita terhormat yang meninggal ketika terjadi musibah Perang Bubat antara Kerajaan Sunda melawan Kerjaaan Majapahit dan ada sebuah alasan sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Perang ini juga yang membuat Kerajaan Sunda menjadi melemah karena sang Maharaja Sunda meninggal ketika peristiwa itu. Kerajaan Sunda yang sedang melemah membuat Kerajaan Sriwijaya dengan mudah mengambil alih kekuasan.
“Ya, matahari memang penuh dengan misteri.”
0 comments