Pendekar Hitam Nusantara - Cuyusika Bangau Putih - Chapter 8


Yuri melihat ke luar ruangannya dan menyadari bahwasalnya matahari sudah tak panas lagi. Matahari makin ke ufuk barat dan tak lama hingga sang surya akan tengelam. Udara dingin yang nyaman mulai menyebar keseluruh padepokan dan membuat orang-orang enggan berlama-lama di luar.

Walaupun seseorang pendekar dilindungi kekuatan kanuragan secara pasif, sehingga membuat tubuhnya lebih kuat daripada orang biasa, tetapi mereka tetap merasa dingin dan panas bila di dalam diri mereka tidak ada senjata fisik ataupun senjata hewan buas kanuragan yang memiliki perwujudan api atau es.

Yuri pun merasakan dingin yang sama dengan orang-orang yang tidak memiliki perwujudan api itu. Namun, Yuri tetap pergi keluar padepokan dan masuk ke hutan untuk menuju sebuah bukit karena kegiatan ini sudah terlanjur menjadi kebiasannya.

Pada awalnya hanya permintaan maaf yang membuatnya datang ke bukit itu, tetapi setelah permintaan maaf itu selesai ia tetap kembali lagi ke bukit itu dan lama-kelamaan kegiatan itu menjadi kebiasaannya. Dia pergi ke bukit itu untuk bertemu seseorang perempuan yang sudah satu minggu ini terus bersamanya menyaksikan matahari terbenam.

Hal yang paling ia inginkan bukanlah melihat matahari terbenam, tetapi melihat perempuan itu. Namun, saat ini perempuan itu sedang terbaring lemah di ruangannya dan ia tidak bisa menjenguknya karena seseorang laki-laki tidak boleh masuk ke dalem pendekar perempuan.

Yuri pergi ke bukit karena tidak ada lagi hal yang dapat ia lakukan. Dia lebih memilih pergi menyaksikan matahari terbenam sendirian daripada melakukan hal lain yang belum ia pikirkan.

Ketika ia hampir sampai di puncak, langkahnya tiba-tiba terhenti karena ia melihat kehadiran 3 orang yang tidak ia kenal di puncak bukit yang lapang itu. Tidak ada satupun orang yang ia kenal dari ke-3 orang itu, tetapi ketika Yuri mendekat dan mereka menyadarinya, mereka terus-terusan melihati Yuri.

Ketiga orang itu memiliki penampilan yang tidak biasa karena menggunakan baju yang tidak biasa digunakan orang-orang di wilayah Kerajaan Sunda ini. Salah satu dari mereka ada yang bermuka garang dengan kepala botak, yang satu lagi tampak seperti orang yang tenang, dan yang satu lagi tampak seperti orang yang tidak peduli.

“Hei, kau yang namanya Yuri?” orang yang tampak tenang mulai berbicara.

“Iya, lalu ada urusan apa kalian mencariku?”

“Oh ternyata dia yang disebut orang luar itu!” ucap orang yang bermuka garang.

“Itu hanya rumor.”

“Sudahlah tidak usah membahas itu. Kita punya urusan yang lebih penting dari pada itu!” cela orang yang bermuka tak peduli.

“Kami ingin memperingatkanmu, sebaiknya kamu jauhi Nona Indira karena identitasnya tidak sesederhana yang kamu pikirkan!” ujar orang yang berpenampilan tampak tenang.

“Dia dalam bahaya kemarin jadi kami tidak bisa diam saja.”

“Apa maksudnya itu?”

“Sudahlah kamu tidak perlu tahu, orang dengan orang tua tidak jelas sepertimu tidak perlu banyak tahu!” ujar pria bermuka garang dengan meledek.

“Hei, jaga mulutmu!” Yuri mulai geram karena orang tuanya dibawa-bawa.

“Hah, memangnya kenapa?”

“Dasar botak! Kalo dilihat dari logat kalian, sepertinya kalian juga bukan orang sini.”

“Bukan urusanmu! Ayo cepat pergi, kita tidak ada urusan lagi dengannya!” ketiga orang itu menjadi geram karena mendengar perkataan Yuri.

“Sepertinya perkataanku benar. Kalian pasti dari kerajaan sampah yang sedang memata-matai tempat ini, kan?”

Pria yang bermuka garang mulai naik pitam. Tangannya menggengam dengan kuat dan ia berkata dengan nada marah, “Sialan kau!”

Yuri mundur sedikit untuk mencari posisi yang pas agar ketika ia diserang dia dapat leluasa bergerak kemanapun. Yuri memposisikan diri pada kuda-kuda kiri dan menunggu pria yang bermuka garang itu untuk menyerang.

Pria bermuka garang maju dengan gegabah karena emosi dan dengan cepat Yuri maju satu langkah, sehingga mengubah kuda-kudanya menjadi kanan depan dan membuat posisi Yuri berada tepat di samping pria bermuka garang itu.

Posisi Yuri yang berada di samping pria itu membuat ia berada di posisi fital lawan karena tangan lawan sedang memukul, sehingga tubuhnya sangat terbuka dan mudah untuk dipukul. Tanpa basa-basi Yuri memukul pria garang itu dengan keras hingga pria itu terpental kesamping lumayan jauh.

Kedua pria yang lainnya awalnya tidak peduli ketika pria bermuka garang itu ingin memukul Yuri, tetapi setelah melihat teman mereka terluka, mereka menjadi marah dan ikut berniat menyerang Yuri.

Pria bermuka tenang yang berada paling dekat dengan Yuri dengan cepat berlari maju dari arah depan Yuri. Kemudian orang itu memposisikan tangan ke belakang agar ketika memukul kekuatannya akan lebih kuat.

Namun, Yuri yang melihat orang itu maju segera memindahkan berat badannya ke kaki kiri yang berada di belakang dan dengan cepat melakukan tendangan kaki kanan yaitu menekuk kaki kemudian mengangkatnya dan yang terakhir melakukan tendangan pada bagian kepala pria itu.

Semua yang dilakukan oleh Yuri itu terlalu cepat dan singkat, sehingga pria bermuka tenang itu tidak dapat melukan elakan ataupun menangkap kaki Yuri. Pria bermuka tenang itu terjatuh sambil memegangi kepalanya yang sakit.

Pria terakhir yang berpenampilan seperti orang yang tidak peduli kaget dan dengan spontan mengumpulkan energi kanuragan di jantungnya kemudian mengeluarkan sabuk kanuragan berwarna kuning. Di tangan pria itu juga muncul Senjata Fisik Kanuragan ‘Rencong’.

Pria itu membentuk sebuah pola sebelum kuda-kuda atau yang disebut ‘Pasang’. Pasang yang pria itu bentuk terasa asing untuk Yuri karena bentuknya yang selama bertahun-tahun ia di padepokan ini belum pernah satupun pendekar ataupun pendekar utama praktikkan.

Bentuk pasang yang pria itu perlihatkan adalah berdiri dengan kaki kiri yang sedikit ditekuk untuk menguatkan pijakan sebagai tumpuan, sedangkan kaki kanannya diangkat setinggi paha untuk bertahan jika musuh datang dari depan. Kedua tangannya dibuka hingga hampir sejajar dengan bahu dan telapak tangannya juga terbuka dengan jari-jarinya yang ditonjolkan.  Posisi jari-jari itu terlihat seperti ingin mencakar.

Posisi pasang yang diperlihatkan orang itu memang tidak pernah Yuri lihat, tetapi bila diperhatikan bentuk dari posisi badannya terlihat seperti ungas yang sedang marah atau lebih tepatnya bangau yang siap menyerang musuhnya.

Keadaan pasang memanglah awalan yang setiap pendekar perlukan karena pada posisi itu kita dapat berkonsentrasi dalam mengalirkan seluaruh kekuatan kanuragan ke seluruh tubuh dan disaat yang bersamaan dapat dengan mudah bertahan bila tiba-tiba musuh menggangu proeses penyebaran kekuatan kanuragan walaupun terbilang cukup sigkat.

Tidak lama setelah melakukan pasang, sabuk kanuragan pria itu mulai muncul dan menujukan lingkaran kuning yang seperti pelindung bagi tubuhnya. Di tangan kanannya juga muncul senjata rencongnya.

“Beladirimu terlihat asing, apa namanya?” Yuri terheran-heran dan terlihat tertarik.

“Cuyusika Bangau Putih.”



GLOSARIUM NUSANTARA 01
  1. Meditasi adalah mengumpulkan energi alam yang akan dibuah menjadi Energi Kanuragan dan akan dikumpulkan di Jantung. Selama meditasi gelang sabuk akan dikeluarkan dan akan mengelilingi tubuh. Ini bisa digunakan sebagai prisai juga.
  2. Murid Awal adalah murid yang baru masuk padepokan dan biasanya berada di tingkat putih.
  3. Padepokan adalah tempat belajar ilmu bela diri dan tempat untuk menjadi pendekar.
  4. Pendekar Utama adalah pendekar yang sudah mencapai tahap tertentu dan dijadikan pelatih oleh padepokan.
  5. Sabuk Kanuragan adalah perwujudan kekuatan kanuragan yang berada di jantung. Warna sabuk Kanuragan tergantung tingkatan kanuragan.
  6. Senjata Fisik Kanuragan adalah senjata yang akan terbentuk ketika kanuragan mencapai tahap Kuning.
  7. Yang Dipertuan Agungkan adalah gelar untuk pemilik padepokan.

You Might Also Like

0 comments